Bab I pendahuluan


Metode Menghafal Al-Qur’an



Yüklə 0,9 Mb.
səhifə2/9
tarix09.01.2019
ölçüsü0,9 Mb.
#94276
1   2   3   4   5   6   7   8   9

Metode Menghafal Al-Qur’an

Dalam menghafal Al-Qur’an pasti mempunyai metode dan cara menghafal yang berbeda-beda, metode apapun yang dipakai tidak akan terlepas dari pembacaan yang berulang-ulang sampai dapat melafalkan tanpa melihat mushaf sedikit pun. Proses menghafal Al-Qur’an dilakukan melalui proses bimbingan seorang guru atau ustadz, proses bimbingan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  1. Bin-Nazhar, yaitu membaca dengan cermat ayat-ayat Al-Qur’an yang akan di hafal dengan melihat mushaf secara berulang-ulang

  2. Tahfidz, yaitu menghafal sedikit demi sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dibaca berulang-ulang secara Bin-Nazhar tersebut.

  3. Talaqqi, yaitu menyetorkan atau memperdengarkan hafalan yang baru dihafal kepada seorang guru atau ustadz.

  4. Takrir, yaitu mengulang-ulang hafalan atau mensima’kan hafalan yang pernah dihafalkan/sudah pernah di sima’kan kepada guru atau ustadz.

  5. Tasmi, yaitu mendengarkan hafalan kepada orang lain baik kepada perseorangan atau secara jamaah27

Dari beberapa metode yang telah disebutkan diatas, pada dasarnya seorang penghafal Al-Qur’an membutuhkan ke lima metode tersebut, karena memang sebenarnya ke lima metode tersebut saling berhubungan anatara satu dengan yang lain. Ketika seseorang itu hendak memulai menghafal Al-Qur’an pasti ia akan masuk ke tahapan Bin-Nazhar, yang kemudian berlanjut pada tahapan Tahfidz, Talaqqi, Takrir, dan Tasmi.


  1. Hukum Menghafal Al-Qur’an

Para ulama pun sepakat bahwa hukum menghafal Al-Qur’an adalah fardhu kifayah. Ini berati bahwa orang yang menghafal Al-Qur’an tidak boleh kurang dari jumlah mutawattir sehingga tidak akan ada kemungkinan terjadinya pemalsuan dan pengubahan terhadap ayat-ayat suci Al-Qur’an28.

Apabila di antara anggota masyarakat ada yang sudah melaksanakannya maka bebaslah beban anggota masyarakat yang lainnya, tetapi jika tidak ada sama sekali, maka berdosalah semuanya29. Prinsip fardhu kifayah ini dimaksudkan untuk menjaga Al-Qur’an dari pemalsuan, perubahan, dan pergantian seperti yang pernah terjadi terhadap kitab-kitab yang lain pada masa lalu.

Menghafal sebagian surah Al-Qur’an seperti Al-Fatihah atau selainnya adalah fardhu’ain. Hal ini mengingat bahwa tidaklah sah shalat seseorang tanpa membaca Al-Fatihah. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِيْ حُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ (ثَلاَثًا)

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Barangsiapa yang shalat tanpa membaca Ummul Qur’an maka shalatnya tidak sempurna (beliau ucapkan tiga kali)”30

Orang yang telah selesai menghafal Al-Qur’an atau baru menyelesaikan sebagian, maka hendaklah ia selalu mengulangnya supaya tidak lupa. Buatlah jadwal tersendiri untuk menghafal ataupun mengulang hafalan, hal ini agar ayat-ayat yang telah dihafal tidak hilang dari ingatan.


  1. Keutamaan Menghafal Al-Qur’an



  1. Menghafal Al-Qur’an merupakan ciri orang yang diberi ilmu. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Surat Al-Ankabut (29) : 49

بَلْ هُوَءَا يَتٌ بَيِّنَتٌ فِى صُدُوْرِ الَّذِ يْنَ أُوْتُوْ اْالْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِأَ يَتِنَآ إِلاَّ الظَّلِمُوْنَ (سوره العنكبوت /٢٩: ٤٩ )
Artinya: “Sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Ankabut/ 29: 49)31

  1. Menjadi keluarga Allah yang berada di atas bumi

  2. Al-Qur’an akan menjadi penolong bagi penghafalnya

  3. Meninggikan derajat manusia di surga

Para ulama menjelaskan arti penghafal Al-Qur’an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabbur serta mengamalkan isinya sekaligus berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

  1. Para penghafal Al-Qur’an bersamaan para malaikat yang mulia dan taat

  2. Mendapatkan mahkota kemuliaan

  3. Kedua orang tua penghafal Al-Qur’an mendapat kemuliaan32

  4. Meninggikan derajat di dunia dan akhirat

  5. Penawar apa yang ada di dada

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ ماَهُوَشِفَآءٌ وَرَ حْمَةُ لِّلْمُؤْ مِنِيْنَ وَلاَيَزِيْدُ اظَّلِمِيْنَ إِلاَّ خَساَرًا (سوره الاسراء : ١٧: ٨٢)

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82)33

Ibrahim An-Nakha’i berkata, “Obat itu ada lima: membaca Al-Qur’an dengan penuh penghayatan, mengosongkan perut (dengan berpuasa), shalat malam, merendahkan diri kepada Allah ketika waktu sahur, dan bermajelis bersama orang-orang shaleh”34

Menghafal Al-Qur’an memiliki banyak keutamaan adapun yang penulis sebutkan diatas merupakan sebagian besar dari keutamaan menghafal Al-Qur’an. Namun meskipun demikian hendaknya seorang penghafal Al-Qur’an meniatkannya harus dengan ikhlas dan hanya untuk Allah semata. Karena ketika seorang penghafal Al-Qur’an itu menghafal dengan niat yang ikhlas maka akan tercermin dari akhlaknya dalam kehidupannya, ia akan memiliki akhlak yang sesuai dengan tuntunannya.


  1. Syarat-syarat menghafal Al-Qur’an

Diantara beberapa hal yang harus diperhatikan ketika seseorang hendak memasuki periode menghafal Al-Qur’an, antara lain:

  1. Mampu mengosongkan benak dan pikiran dari hal-hal yang mengganggu

Membersihkan diri dan segala sesuatu perbuatan yang kemungkinan dapat merendahkan nilai studinya, kemudian menekuni secara baik denga hati terbuka dan ikhlas, lapang dada dan dengan tujuan yang suci sangat diperlukan ketika seseorang akan memasuki periode menghafal Al-Qur’an. Kondisi seperti ini akan tercipta apabila seseorang mampu mengendalikan diri dari perbuatan-perbutan yang tercela seperti ujub, riya, dengki, iri hati, tidak tawakkal, tidak qona’ah, dan lain-lain.

  1. Niat yang Ikhlas

Niat yang kuat akan menghantarkan seseorang pada tujuan yang hendak dicapainya, dan niat yang ikhlas akan menjadi benteng dan perisai bagi dirinya dari kendala-kendala yang mungkin akan dihadapi.

( سوره الزمر : ٣٩: ١١) قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اْللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّ يْنَ

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az-Zumar/ 39 : 11)35



  1. Tekad yang Kuat dan Bulat

Menghafal Al-Qur’an merupakan tugas yang sangat agung dan besar hanya mereka yang memiliki tekad kuat dan bulat serta keinginan yang sungguh-sungguh lah yang mampu melakukan hal ini. Karena seseorang yang memiliki tekad yang kuat adalah mereka yang senantiasa antusias merealisasikan apa saja yang telah ia niatkan dan menyegerakannya dengan semaksimal mungkin.

Barangkali setiap muslim berkeinginan untuk bisa menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Namun demikian, keinginan saja tidaklah cukup semestinya keinginan tersebut dibarengi dengan tekad yang kuat serta kesungguhan dalam melakukannya36. Hal ini sebgaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 19



وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْ مِنٌ فَأُوْلئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُورًا (سوره الاسرآء / ﺍ٧ : ﺍ٩)

Artinya: “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik” (Qs. Al-Isra/ 17 : 19)37




  1. Memiliki Keteguhan dan Kesabaran

Keteguhan dan kesabaran merupakan faktor penting lainnya di dalam menghafalkan Al-Qur’an, sebab di dalam menghafal Al-Qur’an akan banyak sekali kendala-kendala yang dihadapi. Karena menghafal Al-Qur’an merupakan sebuah kegiatan yang memakan waktu sangat lama, apabila sesorang tidak memiliki keteguhan dan kesabaran maka dia akan berhenti di tengah jalan dan menyerah begitu saja.

  1. Istiqamah

Yang dimaksud dengan istiqamah adalah konsisten, yakni tetap menjaga keyakinan dalam proses menghafal. Dengan kata lain seorang penghafal Al-Qur’an harus menjaga kontinuitas dan efisiensi terhdapa waktu.

  1. Menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela dan Maksiat

Perbuatan maksiat dan perbuatan tercela merupakan suatu perbuatan yang harus dijauhi bukan hanya oleh para penghafal Al-Qur’an, melainkan juga harus dijauhi oleh seluruh umat muslim38.

Dalam menghafal Al-Qur’an beberapa syarat di atas hendaknya diperhatikan oleh seorang penghafal Al-Qur’an, dan semua syarat di atas harus diterapkan semuanya karena tidak akan mungkin bisa berjalan baik jika salah satu syarat tersebut tidak dijalankan atau tidak diterapkan.




  1. Faedah Menghafal Al-Qur’an

  1. Allah mencintai para penghafal Al-Qur’an

Makna dari itu para ahli Allah adalah mereka yang berasal dari golongan manusia yang paling di cintai oleh Allah, sebab mereka mencintai kalam-Nya yang senantiasa menyertai dan membacanya pada pagi, siang, hingga malam hari serta mereka menghafalnya di dan meletakannya di dalam dada mereka. Dan salah satu di antara buah kecintaan Allah adalah Allah akan merahmati, membahagiakan, meridhai, dan memasukkan mereka ke dalam syurga-Nya39.

  1. Allah menolong para penghafal Al-Qur’an

  2. Allah memberkahi para penghafal Al-Qur’an

  3. Doa ahli Qur’an (para penghafal Al-Qur’an) tidak tertolak




  1. Hambatan dalam menghafal Al-Qur’an

Hambatan dalam menghafal Al-Qur’an meliputi segala sesuatu yang dinilai berpotensi untuk memperlambat, mengganggu dan menggagalkan pencapaian tujuan individu. Hambatan-hambatan ini secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:

  1. Internal

Yaitu hambatan yang berasal dari dalam diri individu, meliputi kondisi kesehatan, suasana hati (perasaan sebal, sedih, marah, jenuh, malas, putus asa dan bosan). Selain itu juga sulitnya menata niat dan dorongan ingin segera selesai.

  1. Eksternal

Yaitu hambatan yang berasal dari luar diri individu, meliputi: kondisi, lingkungan sosial (hubungan pertemanan), kondisi fisik, lingkungan dan sistem bimbingan yang ada40

Menurut Abdullah Al-Mulham ada beberapa hal yang menjadi hambatan di dalam menghafal Al-Qur’an, antara lain:



Hambatan dari segi Eksternal

  1. Ingatan yang lemah

Seperti yang kita tau bahwa dalam kegiatan menghafal Al-Qur’an memang lebih banyak mengandalkan kekuatan ingatan dibandingkan dengan yang lain, namun perlu diingat ada kalanya seseorang mengalami penyakit yang namanya lupa. Hal ini yang sangat perlu diperhatikan oleh seorang penghafal Al-Qur’an, karena bagaimanapun juga menghafal Al-Qur’an bukanlah suatu hal yang mudah maka dari itu ketika seorang penghafal Al-Qur’an sudah memiliki hafalan Al-Qur’an harus selalu dijaga dengan cara sering-sering melakukan muroja’ah hafalan, agar senantiasa hafalan tersebut terjaga

  1. Waktu yang sempit

Menghafal Al-Qur’an sejatinya mudah hanya saja terkadang beberapa anggapan orang mengenai kegiatan menghafal Al-Qur’an lah yang justru menjadikan menghafal Al-Qur’an meruapakan suatu hal yang sulit. Bagi sebagian orang menghafal bukanlah suatu hal yang sulit hanya saja yang sulit adalah waktu. Terlalu sibuk dengan berbagai urusan menjadikan mereka sangat sedikit meluangkan waktu untuk menghafalkan Al-Qur’an atau bahkan untuk sekedar membacanya saja mereka tidak menyempatkannya.

Ketika seseorang sudah memiliki niat dan kemauan untuk menghafal Al-Qur’an ia tidak bisa hanya menjadikan Al-Qur’an sebatas pengisi waktu senggang saja melainkan harus memiliki waktu khusus dengan Al-Qur’an. Karena dengan berbagai kesibukan yang ada jika hanya menyempatkan membaca dan menghafal Al-Qur’an pada waktu senggang atau waktu sisa ini akan sulit bagi seseorang untuk memulai menghafal Al-Qur’an. Kita harus benar-benar bisa memberikan waktu khusus untuk Al-Qur’an agar mampu memfokuskan diri menghafal Al-Qur’an.



Hambatan dari segi Akhlak/ Internal

  1. Semangat yang menggebu

Pada dasarnya manusia memiliki sifat yang seperti ini, ketika mereka memiliki semangat yang menggebu-gebu mereka terus melakukan suatu pekerjaan yang mereka sukai, begitupun saat seseorang menghafal Al-Qur’an ketika semangat mereka sedang tinggi-tingginya, mereka akan terus meluangkan waktu mereka untuk terus menghafal Al-Qur’an. Hal ini sebenarnya kurang baik, mengapa demikian? Sebab ketika semangat mereka turun dan rasa malas muncul mereka akan mulai bermalas-malasan untuk menghafal dan ini tidak baik untuk seorang penghafal Al-Qur’an. Seorang penghafal Al-Qur’an harus mampu memberikan motivasi untuk dirinya sendiri, agar semangat untuk menghafal Al-Qur’an dapat terus terjaga.

  1. Banyak berbuat maksiat

Banyaknya maksiat pun menjadi salah satu penghambat di dalam menghafal Al-Qur’an bahkan menjadi penghambat yang memegang andil sangat besar, sebab menghafal Al-Qur’an berkaitan dengan kesucian hati serta niat, bila kita banyak berbuat maksiat sudah pasti hati dan niat kita yang sebelumnya perlahan mulai memudar untuk menghafal Al-Qur’an. Dan lambat lau seorang penghafal Al-Qur’an akan lalai dalam menghafalkan Al-Qur’an

  1. Bertumpuknya murojaah

Timbulnya rasa malas untuk melakukan kembali pengulangan-pengulangan ayat (muroja’ah) yang telah di hafal membuat mereka merasa terbebani ketika harus melakukan muroja’ah41.

Di dalam menghafal Al-Qur’an pasti akan ditemui berbagai macam hambatan, baik itu hambatan yang berasal dari luar diri maupun hambatan yang berasal dari dalam diri penghafalnya itu sendiri. Namun meskipun demikian, apapun hambatannya seorang penghafal Qur’an harus bisa mengatasi hambatan atau masalah yang menghampiri



  1. Kaidah-kaidah dalam menghafal Al-Qur’an

Ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan dalam menghafal Al-Qur’an antara lain:

  1. Membatasi porsi hafalan setiap harinya

Menjadi satu hal yang wajib ketika hendak menghafalkan Al-Qur’an seorang penghafal membatasi porsi hafalannya, hal ini bertujuan agar ketika hendak mengfahal Al-Qur’an tidak terlalu banyak dan menumpuk.

  1. Jangan menghafal melebihi batas harian, sampai anda dapat menghafalnya secara sempurna

Bagi hafizh Al-Qur’an, tidak boleh beralih ke batasan hafalan baru kecuali, jika ia telah menyempurnakan dengan baik batasan hafalan sebelumnya, hal ini supaya ayat-ayat yang telah dihafalnnya benar-benar terpatri dalam otak.

  1. Jangan beralih ke surat lain sebelum benar-benar menghafalnya

Usai menghafal satu surat Al-Qur’an sebaiknya jangan langsung beralih ke surat selanjutnya, kecuali benar-benar telah menghafalnya dengan baik dan sempurna. Hal ini supaya ketika beralih ke surat selanjutnya ayat-ayat yang telah di hafal pada surat sebelumnya tetap diingat dengan baik dan mampu melafalkan secara lugas dan jelas tanpa terbata-bata.

  1. Senantiasa meperdengarkan hafalan kepada orang lain

Dengan meperdengarkan hafalan ke orang lain, kita dapat mengetahui adanya kesalahan bacaan ataupun adanya ayat-ayat yang terlupa atau salah tanpa di sadari.

  1. Menggunakan satu Mushaf

Mendengarkan murratal merupakan salah satu alat bantu bagi seseorang dalam menghafalkan Al-Qur’an, karena semakin sering seseorang mendengarkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an melalui murratal maka perlahan ayat-ayat yang didengarnya perlahan akan hafal.42 Akan tetapi baiknya dalam menghafalkan Al-Qur’an tidak hanya mengandalkan murratal saja, tetap harus melihat mushaf. Dan ketika sedang dalam proses menghafal sebaiknya jangan berganti-ganti mushaf, cukup gunakan satu mushaf. Karena bagi sebagian penghafal Al-Qur’an ini sangat berpengaruh pada proses menghafal43.

  1. Indikator Kemampuan Menghafal Al-Qur’an

Untuk dapat memperdalam hafalan Al-Qur’an siswa, penulis menentukan indikator kemampuan menghafal Al-Qur’an antara lain:

  1. Pemahaman, yaitu kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat

  2. Tajwid, yaitu menilai kesempurnaan bunyi bacaan Al-Qur’an menurut hukum aturan tertentu.aturan tersebut meliputi tempat keluarnya huruf (makharijul huruf), aturan panjang pendeknya suatu bacaan Al-Qur’an, dan hukum penentuan berhenti atau lanjutnya bacaan (waqaf).

  3. Tahfidz, yaitu menghafal materi satu persatu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalnya44

  1. Penelitian Yang Relevan

Penelitian yang sudah ada terkait dengan judul yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Tesis yang berjudul Kolerasi antar kemampuan menghafal Al-Qur'an dengan kecerdasan emosional siswa siswi Smp It Insan Mulia Lampung Timur, yang disusun oleh Salis Hotami Mabruri mahasiswa UIN Raden Intan Lampung jurusan Pendidikan Agama Islam, 2017. Hasil penelitiannya menunujukan bahwa tingkat kemampuan menghafal Al-Qur’an dan kecerdasan emosional tergolong ke dalam kategori baik. Dan kemampuan menghafal Al-Qur’an dapat berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kecerdasan emosional siswa, serta adanya korelasi yang positif dan signifikan antara kemampuan menghafal Al-Qur’an dengan kecerdasan emosional siswa

  2. Skripsi yang berjudul hubungan kecerdasan emosional dalam meningkatkan hafalan Al-Qur’an surat An-Naba’ Santri kelas IA MA Pondok Pesantresn Raudhatul Ulum Salatiga Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir yang disusun oleh Ahmad Heriyanto Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang jurusan Pendidikan Agama Islam, 2017. Hasil penelitian menunjukan bahwa kecerdasan emosional dan hafalan Al-Qur’an siswa tergolong baik. Dan terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional terhadap hafalan Al-Qur’an surat An-Naba’ pada santri kelas IA MA Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Salatiga Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir

  3. Skripsi yang berjudul hubungan antara kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an pada siswa kelas VIII di MTs N 2 Surakarta yang disusun oleh Nur Aini Umi Mardiyanti mahasiswa IAIN Surakarta jurusan Pendidikan Agama Islam, 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara kecerdasan emosional dan kemampuan menghafal tergolong baik. Dan Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an pada siswa kelas VIII di MTs N 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2015/2016

Dari beberapa penelitian yang relevan diatas, menunjukkan bahwa masih minimnya yang melakukan penelitian terkait hubungan antara kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an, oleh karena itu penulis melakukan penelitian dengan judul hubungan antar kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an pada siswa kelas IX di SMP Islam Dewan Da’wah Tambun Selatan-Bekasi.


  1. Kerangka Berfikir

Kecerdasan emosional (EQ) merupakan salah satu potensi lain yang dimiliki oleh manusia, selain IQ dan SQ. IQ akan bekerja secara efektif apabila seseorang mampu memfungsikan EQ-nya dengan baik. Selain dalam bidang pendidikan umum, keceerdasan emosional juga dapat berperan penting dalam dunia pendidikan Islam terutama dalam menghafal Al-Qur’an.

Kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan siswa. Meski di dalam menghafal Al-Qur’an lebih banyak mengandalkan kekuatan ingatan, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kecerdasan emosional sangat diperlukan dalam menghafal Al-Qur’an karena menghafal Al-Qur’an merupakan sebuah kegiatan yang membutuhkan proses yang panjang, dan bagi sebagian orang menghafal Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sulit. Sebenarnya jika mereka memiliki niat yang ikhlas dan tekun dalam menghafal pandangan-pandangan seperti itu tidak menjadi alasan mereka untuk tidak menghafal Al-Qur’an.

Menghafal Al-Qur’an merupakan sumber segala ilmu, karena hal ini akan mendorong penghafalnya untuk berprestasi lebih tinggi serta memiliki identitas yang baik. Menghafal Al-Qur’an membutuhkan ketulusan dan keikhlasan hati agar dapat menjalaninya dengan senang hati, ridha, dan tentunya dengan begitu bisa mengatasi segala rintangan yang menghalanginya.

Di dalam proses menghafal Al-Qur’an kecerdasan dasar pada manusia harus di optimalkan sebaik mungkin agar bekerja secara seimbang sebagaimana mestinya. Karena seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa menghafal Al-Qur’an membutuhkan waktu yang panjang dan tak mudah karena didalamnya pasti akan ditemui berbagai macam hambatan-hambatan yang membuat semangat seorang penghafal Al-Qur’an menjadi menurun, oleh sebab itu antara kecerdasan intelektual dan emosional harus berjalan seimbang.


Tabel 2.1

Hubungan antar Variabel

Kecerdasan Emosional (Variabel X)



  1. Kesadaran Diri

  2. Mampu Mengelola Emosi

  3. Memotivasi Diri

  4. Mampu Berempati

  5. Mampu Menjalin Sosial dengan Orang lain

Kemampuan Menghafal Al-Qur’an (Variabel Y)


  1. Tajwid

  2. Tahfidz



  1. Pengajuan Hipotesis

Hipotesis adalah sebuah jawaban sementara dan masih berupa kesimpulan yang belum sempurna dari sebuah penelitian, sehingga perlu adanya pengujian dan pembuktian hipotesis.

  1. Kecerdasan emosional siswa tergolong cukup baik, hal ini terlihat dari interaksi siswa baik antara siswa-siswa, siswa-guru, siswa-masyarakat lingkungan sekolah.

  2. Kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa tergolong cukup baik, hal ini terlihat dari kesiapan siswa untuk menghafal Al-Qur’an pada saat proses pembelajaran.

  3. Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa

Berdasarkan kerangka berfikir di atas, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis penelitian, “Terdapat Hubungan Yang Signifikan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Siswa”


Yüklə 0,9 Mb.

Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə