Fikih ahlul bait taqlid dan Ijtihad

Sizin üçün oyun:

Google Play'də əldə edin


Yüklə 1.06 Mb.
səhifə27/29
tarix22.01.2018
ölçüsü1.06 Mb.
1   ...   21   22   23   24   25   26   27   28   29
Nabi SaaW berkata : "Akan ada masanya para penguasa sepeninggalku yang tidak mengikuti petunjukku dan sunahku, dan hati sebagian dari mereka laksana berhati setan dalam wujud manusia". Lalu Aku berkata : "Apa yang harus kita lakukan bila masanya tiba?". Lalu Nabi SaaW berkata : "Dengarkan dan patuhi perintah mereka. Tak peduli walau mereka menyakitimu dan merampas hartamu, ikuti dan patuhi saja".
Hadits di atas hanya contoh kecil dari 12 hadits serupa dalam kitab shahih muslim yang kita anggap shahih. Lalu siapa yang menyatakan bahwa kitab itu shahih agar kita percaya? Tiada lain (pada saat itu) adalah para penguasa yang haus kekuasaan. Barang siapa (pada saat itu) yang tidak percaya dan tidak mengikuti hadits di atas akan dianggap pemberontak dan dijatuhi hukuman mati. Ada baiknya kita lihat dahulu asal muasal kitab tersebut dan siapa yang mengontrol serta mengawasi pembuatannya.
Muawiyah adalah orang pertama yang mempelopori penyusunan hadits dan sejarah Nabi untuk pertama kalinya dalam satu kitab. Adapun ia memerintahkan seseorang bernama Ubayd yang berasal dari yaman.
Marwan seseorang yang telah diasingkan oleh Nabi SaaW karena permusuhannya terhadap Islam dan dia memiliki pengaruh dan ikatan yang kuat terhadap Utsman adalah salah satu musuh Imam 'Ali. Anaknya yang bernama Abdul malik menggantikan posisinya, dan ia merupakan salah satu orang yang membiayai penyusunan sejarah islam, hadits dan tafsir.
Al-Zuhri adalah sejarahwan pertama yang menyusun sejarah islam atas perintah dan dana langsung Abdul Malik. Selain menyusun sejarah ia juga menyusun kitab hadits yang dimana kitabnya menjadi rujukan utama bagi Al-Bukhari. Status Al-Zuhri diangkat menjadi "bangsawan" oleh Abdul Malik.

Lihat as-Sirah an-Nabawiyyah part I, pp.13-17 oleh shibli seorang ahli sejarah sunni yang ternama.


Al-Zuhri memiliki murid bernama Musa bin Uqbah serta Muhammad bin Ishaq yang di kemudian hari menjadi seorang ahli sejarah ternama. yang kemudian menyusun kitab hadits dan sejarah "juga" dibawah kontrol serta pengawasan penguasa.
Dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Kitab hadits dan sejarah sunni pertama kali dibukukan atas perintah langsung kekhalifahan Umayyah.
2. Penyusun pertama adalah Al-Zuhri, yang kemudian diteruskan oleh Musa bin Uqbah dan Muhammad bin Ishaq.
3. Para penyusun tersebut merupakan keluarga bani Umayyah.
Sedangkan permusuhan antara bani umayyah dan bani hashim sudah berlangsung lama. Permusuhan abu sufyan dan anaknya muawiyah melawan Nabi SaaW, pembantaian Imam Husein as dan 70 pengikutnya di karbala merupakan salah satu contoh dari beberapa contoh lainnya yang membuktikan permusuhan ke dua bani tersebut sudah berlangsung lama hingga kini. Terkait dengan hadits di atas, mereka (bani Umayyah) memerintahkan untuk memfabrikasikan hadits tersebut demi kepentingan mereka sendiri.
Logisnya apakah benar Nabi memerintahkan hal tersebut, bukankah beliau selalu mengajarkan untuk selalu memilih kebenaran dan kebaikan. Jika Nabi memerintahkan tersebut, berarti umat muslim yang mengikuti perintah sang penguasa zalim untuk membunuh, memperkosa dan lain-lain harus benar-benar dipatuhi? Bukankah secara tidak langsung Nabi memerintahkan umatnya untuk berbuat buruk? Lalu untuk apa beliau mendakwahkan islam puluhan tahun jika ujung-ujungnya harus kembali ke keburukan?
Mari kita renungi kembali ......

Asal Muasal kata Ahlul Sunnah Wal Jama'ah

Jika diteliti kembali dalam kitab-kitab sejarah yang ada, maka semua akan sepakat bahwa tahun-tahun dimana Muawiyah memperoleh kekuasaan dinamakan sebagai "tahunnya al-jama'ah". Dinamakan demikian karena pada sebelumnya negara islam terpecah menjadi dua bagian setelah Utsman bin affan wafat, yaitu para pengikut imam 'Ali dan para pendukung Muawiyah. Ketika Imam 'Ali syahid dan Muawiyah menjadi penguasa, tahun dimana ia menjadi penguasa dinamakan sebagai tahun persatuan atau tahun al-jama'ah.
Diluar dari ke dua kelompok yang bertikai terdapat kelompok lain (khawarij) yang dianggap berbahaya oleh muawiyah. Untuk mengantisipasi hal tersebut nama "Ahlul Sunnah Wal Jama'ah" yang berarti persatuan ahli Sunah Nabi di nyatakan oleh muawiyah untuk pertama kalinya untuk mengumpulkan pendukung guna melawan pengikut Imam 'Ali dan golongan khawarij.
Sedangkan dalam kenyataannya para 12 imam Ahlul Bait yang merupakan keturunan langsung Nabi SaaW adalah orang-orang yang paling menguasai dan mengetahui Sunah Nabi secara keseluruhan dan mengakar erat di batin mereka baik secara tersirat maupun tersurat. Dan kebanyakan umat ternyata enggan mengikuti mereka padahal Nabi sudah menyatakan untuk mengikuti ke 12 imam tersebut (lihat shahih bukhari), mereka tetap bersikukuh untuk mengikuti ke 3 khalifah sebelum imam 'Ali.
Imam 'Ali berkata : "lawanlah penguasa yang zalim, maka engkau telah menyelamatkan orang yang di zolimi".
Kembali kepada pembahasan awal….

Satu riwayat yang memiliki tambahan kalimat (bahwa nama ayahandanya sama dengan nama ayahanda Nabi Muhammad) mungkin telah diciptakan oleh Abdullah bin Hasan (mutsanna-kedua) Ibnu (Imam) Hasan as. Abdullah (145/762) mempunyai seorang putra bernoma Muhammad yang memanggilnya Nafs az-Zakiyyah dan Mahdi. Abdullah sering menggunakan kekuasaan dan kekayaannya untuk mendukung revolusi putranya. Abdullah sering menyembunyikan putranya selama periode Umayah ketika tidak ada bahaya baginya. ketika ia bertanya mengapa ia melakukan hal ini, ia berkata “ Ini sebuah gagasan, waktu mereka belum tiba”. Pada surat pertama yang Muhammad kirim kepada khalifah Abbasiah, Manshur, ia menuliskan, “Dari Muhammad bin Abdillah, Mahdi,... “


Muhammad bin Abdillah memulai tuntutannya pada akhir pemerintahan khalifah Umayah. Muhammad menjadi kuat dan berusaha mendapatkan dukungan khalifah Umayah terakhir, Marwan bin Muhammad (132/750), tetapi khalifah tidak mengindahkannya. Abu Abbas Falasti berkata kepada Marwan, “Muhammad bin Abdillah berusaha mendapatkan kekuasaan karena ia menyatakan dirinya sebagai Mahdi.” Marwan membalas, “Apa yang akan ia lakukan? (Mahdi) bukanlah dirinya, atau ayah dari nenek moyangnya. la adalah putra dari seorang budak wanita.”
Ketika Marwan berkata bahwa Mahdi bukanlah ayah keturunannya, maksudnya keturunan Imam Hasan as, karena Mahdi as adalah keturunan Imam Husain as dan putra dari seorang hamba sahaya wanita. Bahkan Marwan mengetahui hadis-hadis ini karena itu ia tidak mengindahkan Muhammad bin Abdillah. Hal ini menunjukkan bahwa versi hadis yang benar dari Nabi Muhammad beredar luas pada saat itu.
Ada juga kemungkinan bahwa kalimat-kalimat palsu dilakukan oleh khalifah Abbasiah, Abdullah Manshur, yang memanggil putranya Mahdi. Muslim bin Qutaibah berkata, “Mansyur memanggilku dan berkata, ‘ Muhammad bin Abdillah memberontak dan ia menyebut dirinya Mahdi. Demi Allah, ia bukanlah Mahdi. Aku akan mengatakan sesuatu yang lain yang tidak pemah aku katakan kepada siapa pun sebelumnya, dan setelah kalian. Demi Allah, putraku bukanlah Mahdi juga, ... tetapi akan memanggilnya demikian agar ia memperoleh masa depan yang baik.”
Selain itu, khalifah Manshur menciptakan ‘hadis’ berikut. Diriwayatkan oleh Hakim bahwa Ibnu Abbas berkata, “ Empat orang ini berasal dari kami, Ahlulbait, Saffah, Mundzir, Manshur, Manshur dan Mahdi”.
Jelaslah bahwa dengan menciptakan riwayat di atas, Manshur memutuskan rangkaian khalifah Abbasiah dan memasukkan namanya sendiri dan nama putranya, Mahdi, di antara Ahlulbait. Ibnu Abbas tidak pemah mengucapkan kalimat seperti itu dan ia sendiri tidak termasuk ke dalam Ahlulbait, apalagi penguasa-penguasa Abbasiah.
Dari semua penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa kepalsuan riwayat yang memberi kalimat tambahan, berasal dari Muhammad bin Abdillah dan/atau khalifah Abbasiah, Mahdi. Di sini bukan tempat kita memeriksa hadis secara kritis tetapi hanya menunjukkan latar belakang sejarah mengenai hal itu.

Sebagaimana yang telah disebutkan, ulama Sunni menolak riwayat yang satu itu.


Berikut ini nama-nama ulama Sunni yang menulis bahwa Imam Mahdi telah lahir, dan merupakan satu-satunya putra Imam Hasan Askari as. la masih hidup dan saat ini gaib dan akan muncul kembali untuk menegakkan pemerintahan yang adil. Mereka sepakat dalam hal ini dengan kaum Syi’ah.
1. Kamaluddin bin Thalhah, dalam bukunya Matalib as-Su’aal Fi Manaqib Aal ar-Rasul;
2. Sulaiman bin Ibrahim Qunduzi Hanafi (dikenal sebagai Khawajah Kalan), dalam bukunya Yanabi ‘ al-Mawaddah yang juga membenarkan dari sumber-sumber hadis Sunni bahwa mencintai Ahlulbait adalah satu¬satunya jalan yang benar dan aturan Islam;
3. Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf Ganji, Syafi’ i (658), penulis buku al-Bayan fi Akhbar Shahib az-Zaman dan Kifayah at-Talib;
4. Syekh Nuruddin Ali bin Muhammad bin Sabbagh, Maliki, dari Mekkah, dalam bukunya, al-Fush al-Muhimmah, hal. 310-319.
5. Ahmad bin Ibrahim bin Hasyim Baladzuri adalah salah satu ulama besar dan ahli hadis yang juga membenarkan Imamah dan kegaiban Imam keduabelas dalam bukunya yang berjudul al-Hadits al-Mutassalsil;
6. Ibnu Arabi (Muhyiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad Arabi), Hanbali, dalam bukunya al-Futuhat al-Makkiyyah (bab 366) membahas secara rinci tentang kelahiran tentang kulahiran Mahdi, putra Askari, dan kedatangannnya kembali sebelum Hari Kiamat.
7. lbnu Khashab (Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin nhnwd bin Khashab), membahas secara rinci tentang Imam keduabelas dalam buku biografi berjudul Tawarikh Mawalid al-A’immah wa Wafiyatihim;
Syekh Abdullah Sya’rani (905), Sufi terkenal, dalam karyanya Yaqaqit, bab 66, membahas kelahiran dan kegaiban Imam keduabelas. la juga membahas secara lengkap tentang Imam Mahdi as dalam bukunya yang lain berjudul Aqa’id al-Akabir;
8. Syekh Hasan Iraqi yang menerima Imam kedua belas, memuji Sya’rani sebagai seorang sufi yang saleh dan terpelajar, dan meriwayatkan kisah pertemuan Sya’rani dengan Imam keduabelas;
9. Sayid Ali, dikenal sebagai Khawas, guru Sya’rani, juga meyakini Imam keduabelas. la membenarkan apa yang dinyatakan Syekh Hasan mengenai pertemuan Sya’rani dengan Imam ke dua belas;
10. Nuruddin Abdurrahman bin Ahmad, dikenal sebagai Mullah Jami, dalam bukunya, Syawahid an-Nubuwah (bukti kenabian Nabi Muhammad) membahas kelahiran Imam keduabelas dan pernyataannya sangat sepakat dengan riwayat Syi’ah;
11. Muhammadbin Mahmud Bukhari, Hanafi, dikenal sebagai Khawajah Farsa dalam bukunya Fasl al-Khitab memberi penjelasan tentang kelahiran, kegaiban, dan kemunculan kembali Imam kedua belas;
12. Syekh Abdul Haq Dehlawi, dalam bukunya Jazb e Qulub, meriwayatkan pernyataan Hakima, putri Imam kesembilan yang diminta Imam keduabelas, Imam Askari, untuk menemani Narjis, ibunda Imam terakhir di malam terakhir ketika ia melahirkan putranya;

Imam Mahdi bag 10

11. Sayid Jamaluddin Husaini Muhaddits, penulis buku terkenal Rawdhat al-ahbab, Menurut Dayar Bakri, Mulla Ali Qari, Abdul Haqq Dchlawi, buku itu merupakan salah satu sumber yang dapat dipercaya. Penulis menyebutkan Imam kedua belas dalam istilah yang sangat referensial. Ia menyatakan, Kelahiran rahaya yang dijanjikan dan penunjuk jalan terjadi pada tanggal 15 Sya’ban pada tahun 225 H di Samarra.” la menggambarkan Imam dengan kalimat sebagai berikut, “Mahdi Muntazhar (Mahdi yng dinantikan), Khalaf Shalih (penerus yang saleh), Shahibuzzaman (pemilik zaman);
12. Arif Abdurrahman Sufi, dalam karyanya Mir’at al-Asar (Cermin Misteri) membahas secara rinci kelahiran, dan kegaiban Imam kedua belas;

Ali Akbar bin Asad Allah Maududi, dalam bukunya, Mukasyafah (Penyingkapan), yang merupakan tafsiran Nafahat al-Uns karya Abdur¬rahman Jami, membenarkan keberadaan Imam Mahdi sebagai titik pusat petunjuk setelah ayahnya, Imam Hasan Askari yang juga merupakan pusat petunjuk Imamah;


13. Malik Ulama Dulatabadi yang merupakan seorang ulama terkenal, dalam bukunya Hidayah as-Sa’dah membenarkan kepernimpinan dan kegaiban Imam Mahdi;
14. Nasr bin Ali Jahzami Nasri, salah satu perawi hadis yang paling dipercaya yang telah dipuji Khatib al-Baghda dalam buku sejarahnya, dan Yusuf GanjiSyafi’i, dalam bukunya Manaqib, telahmengenalkan Nasr sebagai salah satu guru dari al-Bukhari dan Muslim. Nasr menegaskan keberadaan Qa’im aali Muhammad (‘penopang’ di antara keluarga Muhammad), salah satu di antara para Imam dari keluarga Nabi Muhammad SAW yang tugasnya menegakkan Islam di seluruh muka bumi ini;
15. Mulla Ali Qari, salah satu ahli hadis terkemuka, dalam buku terkenalnya, Mirqat, membahas Imam Mahdi setelah ia Benyebutkan pernyataan terkenal Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa sepe¬ninggalnya akan datang dua belas penerus (khalifah). Mulla Ali menyatakan tentang kekuasaan mereka dan tidak adanya perbedaan di antara mereka karena mereka adalah pemimpin-pemimpin yang benar;
16. Kazi Jawad Sibti adalah orang Nasrani tetapi kemudian ia masuk Islam. la menulis buku berjudul Barahin Sibtiyyah (Bukti-bukti yang dikemukakan Sibti), yang merupakan penyangkalan penulis-penulis Nasrani. la meriwayatkan kenabian dari Nabi Ashaya mengenai kedatangan seorang lelaki dari keturunan terpilih dari garis keturunan Nabi Adam yang terpilih yang akan menjadi singgasana, dengan kata lain, ia akan mengisi ruh kebijaksanaan, simpati, keadilan, ilino pengetahuan, dan menjadi orang yang sangatbertakwa kepada Allah SWT Allah menganugeralrinya akal yang tinggi dan agung dan menjadikannya kuat. Keputusannya diambil berdasarkan berita yang ia dengar dari dunia luar, tetapi ia memiliki pandangan yang diberi petunjuk tentang segala sesuatu dan menilai umat berdasarkan apa yang benar-benar ada di hati-hati mereka. la lebih jauh menyatakan bahwa caranya menilai sangat berbeda dan tidak sama dengan rasul atau wali Allah manapun. Umat Islam sepakat bahwa gambaran Mahdi seperti ini merupakan keturunan Fathimah binti Muhammad SAW. Nampaknya pandangan Syi’ah merupakan tafsiran kenabian sesungguhnya yang benar.
17. Sibt bin jauji, Hanafi, (Syamsuddin Abul Muzhaffar Yusuf), penulis buku Tathkirat al-Khawas, hal. 325-328, menyebutkan dua puluh dua nama orang yang diyakini kaum Muslimin hidup hingga 300-3000 tahun! la juga menulis tentang Imam keduabelas sebagai berikut, “la (Mahdi) adalah Muhammad bin Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa Ridha. Namanya adalah Abu Abdillah dan Abu Qasim as. la adalah penerus terakhir Nabi Muhammad SAW. la adalah Imam terakhir dari keluarga Nabi Muhammad SAW. la adalah bukti Allah yang kuat (al-Hujjah). la adalah Pemilik Zaman (Shahib az-Zaman). la adalah orang yang dinantikan (al-Muntazhar).”
18. Abu Bakar Ahmad bin Hasan Baihaqi, ahli fiqih Syafi terkemuka, membenarkan kelahiran putra Imam Askari dan menyatakan bahwa ia adalah Imam Mahdi yang dinantikan itu;
19. Syekh Sadruddin, dikenal sebagai Hamawi, telah menulis sebuah buku tentang Imam terakhir dari keluarga Nabi Muhammad SAW. la rncngutip sebuah hadis Nabi Muhammad sebagai berikut, “Orang-orang terpelajar mencari para pengikutku berada di antara barisan para nabi dari Bani larnil,” dan merupakan dua belas Naqib (pemimpin) Bani Israil (lihat QS. wali terakhir, yang merupakan penerus Nabi yang terakhir, wali kedua belas terdapat dalam garis kuturunan Aulia, yaitu Mahdi, Shahib az-Zaman, nama dan julukannya tidak boleh digunakan untuk urang lain. Syekh Ahmad Jami, (seperti yang dikutip oleh Qunduzi, penulis Yanabf al-Mawaddah, dan Qadhi Nur Allah penulis Majalis al-Mu’minin) menulis puisi berikut ini.
Hati ini dipenuhi kecintaan kepada Haydar

Di sisi Haydar, Hasan adalah penunjuk jalan dan Pemirapin kami Debu-debu di telapak kaki Husain

Adalah celak di mataku.

Al-Abidin, penghias seluruh orang-orang yang taat Bagaikan mahkota di kepalaku.

AI-Baqir adalah cahaya kedua mataku

Agama Yang Ja far bawa adalah benar dan jalan Yang Musa tawarkan adalah jalan yang lurus.

Wahai orang-orang yang taat: dengarlah aku yang memuji raja sekalian raja (ar-Ridha)

Yang terkubur di Khurasan

Setitik debu pusaranya adalah penawar seluruh rasa sakit

Pemimpin orang-orang yang beriman adalah at-Taqi, Wahai kaum Muslimin

Jika kalian mencintai at-Taqi melebihi siapapun Kalian telah melakukan hal yang tepat dan benar. AI-Askari adalah cahaya mata Adam dan dunia ini Dimanakah kita menemukannya, di dunia ini, seorang pemimpin seperti al-Mahdi?
20. Syekh Amir Ibnu Basri telah membuat sebuah elegi (pujian) berjudul Qasidala Tayya. Isinya mengandung hal-hal mistis, ilmu, teosofi, kebenaran, dan persoalan etika. Berikut ini bait yang dikutip.
Wahai Imam Mahdi! Berapa lama engkau akan disembunyikan? Bantulah kami, wahai ayah kami, dengan balasanmu!

Kami merasa bersedih karena waktu penantian begitu panjang.

Demi Tuhanmu, karuniakanlah kami dengan orang-orang yang mencintaimu

Wahai pusat dari sekalian makhluk! Segerakanlah kedatangan, orang tercinta kami!

Kembalikanlah, sehingga kami dapat menikmati keberadaannya. Sesungguhnya, yang demikian merupakan kebahagian yang sangat besar Karena seorang pencinta akan menemui orang yang dicintainya setelah lama bada

Sahabat
Syi’ah sangat menghormati beberapa sahabat Nabi yang sangat taat kepada Nabi Muhammad dan Ahlulbait semasa Nabi masih hidup dan setelah Nabi wafat. Di antara sahabat-sahabat besar itu adalah:


Abu Dzar Ghiffari

Nabi berkata mengenai Abu Dzar Ghiffari: “Langit tidak menaungi dan bumi tidak memikul seseorang yang lebih teguh selain Abu Dzar. la berjalan di muka bumi ini dengan sikap tidak peduli pada dunia seperti halnya Nabi Isa putra Maryam.”


Ammar bin Yasir

Nabi Muhammad berkata kepada Ammar bin Yasir dan kepada orangtuanya: “Wahai keluarga Yasir! Bersabarlah, karena tempat kembali kalian adalah surga.” Nabi pun berkata padanya, “Ammar, bergembiralah karena kelompok orang-orang kafir akan membunuhmu.”


Miqdad bin Aswad

la merupakan salah satu dari empat lelaki yang Allah SWT perintahkan untuk Nabi cintai. Nabi berkata: “Allah memerintahkanku untuk mencintai empat orang, ia memberitahuku bahwa la mencintai mereka.” Orang orang bertanya tentang siapa mereka. Nabi berkata,, ‘Ali adalah salah satu dari mereka (ia mengulangnya tiga kali) dan Abu Dzar, Salman serta Miqdad.” Nabi juga berkata: “Setiap Rasul dikaruniai Allah tujuh orang sahabat setia. Aku dikaruniai empat belas orang sahabat setia.” Mereka adalah Ali, Hasan, Husain, Hamzah, Ja’far, Ammar bin Yasir, Abu Dzar, Miqdad dan Salman.”


Salman Farisi

Mengenai Salman Nabi Muhammad berkata: “Surga merindukan 3 orang Ali, Ammar dan Salman.”


Ibnu Abbas

Dialah orang yang dikatakan Nabi Muhammad: “Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar Engkau mengajarinya ilmu dan menjadikannya memahami agama dan masukkanlah ia ke dalam golongan orang-orang beriman.”‘



Pandangan Mazhab Syi’ah Terhadap Sahabat
Tema bab ini membahas bagaimana Syi’ah memandang sahabat¬sahabat Nabi Muhammad SAW. Pada bagian ini kita akan merujuk ayat-ayat Allah, sebagaimana yang dinyatakan Quran berkenaan dengan para sahabat dan juga pendapat Nabi Muhammad berdasarkan hadis-hadis sahih dari mazhab Sunni.
Syi’ah tidak memiliki pandangan yang khusus mengenai sahabat-sahabat Nabi. Berdasarkan keshahihan serta penafsiran hadis-hadis yang diriwayatkan, beberapa hadis tiba pada kesimpulan yang berbeda-beda karena golongan sahabat kedua yang akan disebutkan di bawah ini. Pendapat mengenai hadis mana yang lebih sahih dan makna mana yang benar, kadang masih mengundang perdebatan. Dalam pembahasan ini kami ketengahkan apa yang dianggap sebagai ciri khas Syi’ah.
Syiah membagi sahabat menjadi tiga golongan:
Pertama, golongan sahabat yang beriman kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan mengorbankan seluruh diri mereka demi kepentingan Islam. Mereka adalah golongan paling utama. Golongan sahabat ini selalu membantu dan senantiasa bersama-sama Nabi. Mereka tidak pernah melanggar perintahnya dalam setiap hal, dan tidak pula mengatakan bahwa Nabi berdusta. Sahabat-sahabat golongan ini di antaranya, tetapi tidak terbatas, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Ghiffari, Salman Farisi, Miqdad, Ammar bin Yasir, Jabir bin Abdillah Anshari.
Kedua adalah, orang-orang Islam, tetapi perbuatan mereka tidak sungguh-sungguh. Sahabat golongan kedua ini contohnya, tetapi tidak terbatas, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Ketiga adalah orang-orang yang mengingkari Islam setelah Nabi wafat sebagaimana yang dicatat oleh Bukhari, atau orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT, tidak mengutamakan Nabi Muhammad, tetapi berusaha menyusup ke dalam Islam agar dimasukkan ke dalam golongan kaum Muslimin. Mereka adalah orang-orang munafik seperti Abu Sufyan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan. Ketika menjadi khalifah, Yazid berkata: “Keluarga Hasyim mendapatkan singgasana ini, tetapi tidak ada wahyu yang diturunkan ataupun ayat yang benar.”
Bani Hasyim merupakan kaum dan suku asal Nabi Muhammad, dan ucapan Yazid merupakan ejekan secara sengaja yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pendusta, bukan seorang Nabi. Singgasana (kekuasaan) merupakan kiasan mengendalikan urusan-urusan Mekkah dan seluruh daerah. Artinya, Bani Hasyim mengendalikan seluruh wilayah dengan pesan-pesan Islam, dan Nabi Muhammad adalah Rasul yang dipilih, akan tetapi sebenarnya tidak ada wahyu dan pesan untuknya. Itulah pendapat Yazid tentang Allah SWT, Islam, dan Nabi Muhammad SAW.
Ayahnya, Muawiyah serta kakeknya Abu Sufyan, bahkan lebih buruk. Pada awal kekuasaan Utsman, ketika Umayah menduduki posisi – posisi penting Abu Sufyan berkata :
Hai Bani Umayah! Sekarang kerajaan ini telah datang pada kalian, permainkanlah seperti anak-anak bermain dengan bola, lemparkan bola kekuasaan kepada keluarga/sukumu. Kami tidak percaya apakah surga atau neraka itu ada, akan tetapi kerajaan ini adalah sesuatu yang pasti.

Demi dia yang nama Abu Sufyan bersumpah, hari pembalasan atau kebangkitan itu tidak ada, demikian juga surga atau neraka, hari kebangkitan atau pembalasan!


(Kemudian Abu Sufyan pergi ke Uhud dan menendang pusara Hamzah, paman Nabi Muhammad yang syahid pada perang Uhud ketika bertempur melawan Abu Sufyan. la berkata): Hai, Abu, Ya’la! Lihatlah kerajaan yang kamu perjuangkan akhirnya kembali kepada kami.
Ketika mengambil alih kekhalifahan, Muawiyah bin Abu Sufyan berkata: “Aku tidak memerangimu untuk shalat, berpuasa, membayar sedekah, tetapi untuk menjadi pemimpin dan menguasai kalian!”
Hadis ini merupakan petunjuk bahwa Muawiyah tidak peduli dengan amanah Islam sedikitpun, apalagi perintah Allah. Perang yang ia lakukan bermotifkan politik untuk mendapat kekuasaan atas seluruh wilayah dan mengambil alih kekhalifahan. Yang demikian bukan suatu yang aneh atau mengherankan. Muawiyah telah meracun Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Sedangkan Yazid bin Muawiyah adalah otak pembunuhan Husain di Karbala, Iraq.
Pandangan Quran Mengenai Sahabat
Sekarang mari kita lihat pendapat Quran mengenai kategori sahabat yang berbeda-beda. Sahabat golongan pertama ditunjukkan oleh Allah dalam ayat berikut:
Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, (tetapi) berkasih sayang diantara mereka. Engkau akan melihat mereka ruku dan sujud (shalat), memohon anugerah Allah dan ridha-(Nya). Pada wajah – wajah mereka terdapat tanda, bekas sujud mereka. Demikianlah sifat – sifat mereka dalam Taurat; dan begitu pula dalam Injil seperti tanaman yang memunculkan tunasnya, kemudian tunas itu menguatkannnya, lalu menjadi lebat, dan tegak lurus diatas batangnya (memberikan) penanamnya kesenangan dan harapan. Tetapi, membuat marah orang – orang kafir. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath : 29).
Sahabat-sahabat ini tidak diperdebatkan oleh Syi’ah dan Sunni. Karenanya, tidak akan dibahas di sini. Akan tetapi, perhatikan apa yang difirmankan Allah Yang Maha Bijak pada kalimat terakhir: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara mereka yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.” Perhatikan kata, “orang-orang di antara mereka... “ Mengapa Allah tidak mengatakan “Allah telah menjanjikan kepada semua orang dari mereka?” Karena tidak semua orang beriman. Itulah yang mazhab Syi’ah coba sampaikan kepada dunia. mazbab Sunni, kapan pun mereka bershalawat kepada Nabi Muhammad, mereka pun bershalawat kepada semua sahabat, tanpa terkecuali. Mengapa Allah SWT membuat kekecualian sedang mazhab Sunni tidak?


Dostları ilə paylaş:
1   ...   21   22   23   24   25   26   27   28   29
Orklarla döyüş:

Google Play'də əldə edin


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə