Tuhan menyiksa dirinya



Yüklə 0.51 Mb.
səhifə1/14
tarix09.03.2018
ölçüsü0.51 Mb.
  1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   14

Tuhan menyiksa dirinya ??










Written by Administrator   

Thursday, 13 September 2007

From: lukman hakim luxmapet@...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it >
Sent: Saturday, November 24, 2001 5:28 AM
Subject: Tuhan menyiksa Diri-Nya ?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ada pertanyaan yang mengganjal dan mohon penjelasannya.
Kalau yang kembali kepada Tuhan (Ilaihi roojiuun) adalah Roh kita,yang berasal dari Roh-Ku (min ruukhii),lalu apa yang di azab kelak di akherat ? apakah termasuk Roh ini ? apakah Tuhan menyiksa DiriNya sendiri ? Dan bukankah Roh kita telah bermakrifat kepada Tuhan sebelum kelahiran kita ?

Terima kasih atas penjelasannya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

 

Tanggapan untuk sdr. Lukman hakim ( luxmapet@...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it )

Assalamu’alaikum wa rahamatullaahi wa barakaatuh ……

Pertanyaan anda singkat tetapi membutuhkan ulasan yang tidak sederhana. Untuk itu saya akan mencoba memberikan ilustrasi, siapa yang sebenarnya merasakan. ..

Bagaimana caranya merasakan adanya Rohani yang sejati.

Itu soal yang sederhana sekali. Ada prinsip yang aktif yang menyebabkan badan bergerak. Apabila prinsip itu tidak ada, maka badan tidak bergerak lagi, jadi harus ada sesuatu di dalam badan yang menyebabkan badan itu bergerak. Itu bukan konsep yang sulit sekali.Yang menjadi pertanyaan adalah apakah prinsip yang aktif itu ? Pertanyaan ini merupakan hakikat filsafat.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita mulai mulai dengan pertanyaan lain, "bagaimana sifat sang roh di dalam badan ??", kemudian "bagaimana membedakan antara badan yang masih hidup dan badan yang sudah mati ?".

Badan selalu mati.

Badan seperti mesin besar yang terbuat dari unsur-unsur alam yang mati, sama seperti mesin-mesin yang dibuat manusia (misalnya tape recorder), yang ketika anda sebagai orang yang masih hidup menekan tombol ‘play’, maka mesin itu bekerja. Bedanya, di dalam badan ada prinsip yang aktif (daya hidup). Selama daya hidup tersebut tetap berada di dalam badan, badan bergerak dan kelihatannya hidup. Misalnya kita semua mempunyai kekuatan untuk bicara, kalau saya meminta supaya salah seorang diantara teman-teman datang kemari, dia akan datang, tetapi kalau prinsip yang aktif meninggalkan badannya, walaupun saya memanggilnya selama beribu-ribu tahun, dia tidak akan datang !!

Ini adalah hal yang mudah difahami, tetapi justru apa yang merupakan prinsip yang aktif itu ? jawaban atas pertanyaan itu merupakan awal sejati pengetahuan ruhani. Tetapi bagaimana caranya kita akan menjadi sadar akan prinsip ini .. sebagai pengalaman langsung bukan hanya sebagai kesimpulan intelektual ?

Mudah sekali saya kira untuk memahami hal tersebut diatas, apabila kita sadar bahwa tubuh kita adalah sebuah benda mati seperti benda-benda lainnya, karena terbuat dari unsur-unsur alam semesta ini. Ketika saya meninggalkan tubuh ini, ketika tubuh saya mati dan dimakan ulat dan kemudian lenyap tak berbekas, saya tidak merasakan apa-apa. Mengapa saya tidak merasakan sakitnya tubuh yang dimakan ulat tadi ?? hal ini mirip peristiwa yang terjadi kepada Sayyidina Ali tatkala beliau melakukan shalatnya dengan ‘khusyu’ dan sebatang anak panah yang tertancap pada badannya dicabut, beliau tidak merasa sakit.



Apakah atau siapakah yang tersiksa ??

Mari kita memasuki kefahaman ilustrasi dari kehidupan rohani kita. Saat kita berada di sebuah ruangan yang bersuhu dingin, kemudian kita pindah kesebuah ruangan panas, atau masuk keruangan yang gelap dan yang terakhir adalah ruangan terang . Setelah itu keluarlah dari ruangan-ruangan tersebut.

Pertanyaannya adalah, tahukah ruangan dingin itu bahwa dirinya dingin ??, tahukah ruangan panas bahwa dirinya panas ??, tahukah ruangan gelap dan terang itu atas keadaannya ?? jawabnya tidak tahu . Agar ruangan itu tahu (merasakan) bahwa dirinya dingin, panas, gelap harus ada yang aktif yang bisa memberikan informasi bahwa dirinya dingin atau panas !! yaitu AKU. sang AKU yang aktif itu, bukan yang tersiksa, bukan yang kepanasan, bukan yang kegelapan, karena AKU bukan ruangan-ruangan itu. Lalu siapa yang terang, siapa yang gelap, siapa yang dingin, siapa yang panas ?? Kalau ruangan itu mengembalikan kepada yang aktif itu, maka ruangan itu tidak merasakan apa-apa, tidak ada dingin, tidak ada panas, dan tidak ada gelap dan terang, seperti halnya ruangan badan ini yang kalau dicubit terasa sekali sakitnya, akan tetapi jika anda meninggalkan badan ini apakah melalui shalat khusyu’, pingsan atau mati, maka anda tidak merasakan kesakitan lagi. Lalu siapa yang merasa kesakitan tadi ??

Mengapa saya yang sakit, lalu tidak merasa sakit jika saya tinggalkan badan ini ?. Apa yang menjadi prinsip sehingga pengertian inna lillahi wa inna ilahi raaji’uun mudah difahami dengan sederhana ?.

Manusia terbuat dari ekstrak tanah setelah disempurnakan bentuk kejadiannya , maka dihembuskan Ruh-Ku , Ruhani dari Tuhan. sebagaimana firman Allah dalam surat Al hijr 28-29 . :

Dan (ingatlah) , ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat " sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya Ruh (ciptaan-Ku), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud .

Pada mulanya, manusia adalah sebuah bentuk yang diciptakan dari unsur tanah yang tidak mempunyai daya apa-apa. Manusia adalah sebuah benda yang tidak hidup, tidak aktif, tidak mampu merasakan apa-apa, tidak kuasa, tidak pandai dan tidak kaya !! sehingga kita sering menyebut laa haula wa quwwata illa billah, tiada daya upaya kecuali kekuatan Allah semata. Mari kita perhatikan unsur-unsur tubuh kita yang sebenarnya . Apakah benar unsur-unsur itu mati ?. tidak ada apa-apanya jika tidak ada Ruh yang bergerak ….perhatikan satu unsur dalam tubuh kita, yaitu atom-atom kecil yang menjadi bagian tubuh kita yang tersusun menjadi sebuah senyawa dan molekul. Ia bergerak dengan teratur, …..sebuah atom memiliki sebuah inti yang terdiri dari proton-proton yang bermuatan positif dan neutron-neutron netral (tidak bermuatan) yang disekelilingnya berputar electron yang bermuatan negatif. Pemandangan tiga dimensi dari atom tersebut menunjukkan electron-electron yang sedang mengelilingi inti pada kecenderungan satu sama lain. Benda-benda kecil itu bergerak dengan teratur dalam sebuah hukum gerak yang hidup dan terencana . Ia tidak kuasa mengikuti gerak yang memaksa dirinya. Suka tidak suka ia harus mengikuti gerak itu. Jika sebuah matahari ataupun bumi merupakan kumpulan dari atom-atom, maka semua jagat raya ini bergerak dalam satu aturan yang sama, dan dalam gerak yang sama. Sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an : kemudian Dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. Jawab mereka : kami mengikuti dengan suka hati . ( QS: Fushilat :11 )

Ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala perintah dan pengaturan Sang Hidup, Dan peraturan yang telah ditetapkan Allah itu tidak akan berubah selamanya.

Terkait dengan persoalan bahasan utama kita yaitu bagaimana Allah meniupkan roh-Nya kepada tubuh manusia, yang pada hakikatnya adalah sebuah kumpulan atom-atom yang bergerak dan hidup. Mungkinkah istilah meniupkan dihapuskan, untuk menghilangkan kesan bahwa ruh itu dihembuskan seperti halnya udara yang ditiupkan kedalam balon karet?. karena kata tersebut hanya merupakan kata bantu untuk memudahkan dan menyederhanakan bahasa yang agak rumit di jelaskan (mutasyabihat).

Bukankah pengertian kita sekarang mulai berkembang? Siapa sebenarnya yang menggerakkan alam semesta, atau atom-atom dalam tubuh kita ?, tidak ada lagi istilah keluar masuknya roh manusia yang seakan rohani itu ditiupkan.

Pengertian inilah yang pertama kali saya ingin ungkapkan agar kita menjadi mudah memahami apa itu kesadaraan rohani. Dengan pemahaman tersebut kita menyadari bahwa rohani kita bukan lagi berada di dalam tubuh ini akan tetapi meliputi tubuh dan alam semesta (berada di dalam dan diluar sekaligus).

Kesimpulan bahwa yang digerakkan, dihidupkan, dirasakan, dimatikan, di kembang biakkan , adalah materi-materi itu …sehingga mereka menjadi merasakan bergerak, berperasaan, sakit, senang …dst

Dengan demikian kalau kita ingin terbebas dari semua rasa tadi maka kita harus mengembalikan segala sifat itu kepada yang memiliki-Nya, Inna lillahi wa inna ilahi raaji’uun …..Sesunggguhnya Kami, berasal dari Allah dan sesungguhnya Kami semua kembali kepada-Nya.



Catatan :

Materi ini, sebenarnya dibahas melalui tahapan yang agak lama dan melalui proses pengajaran spiritual yang kontinyu, sehingga untuk yang belum sempat mengikuti ‘pengajaran’ rohani, biasanya tidak mudah untuk memahaminya. Pembahasan ini merupakan pengalaman rohani, bukan sekedar pembahasan seperti dibangku kuliah dan biasanya di ajarkan melalui kerohanian yang hening dan mendalam…. . bertambah ‘terang’ rohani anda semakin mudah memahami bahasan ini .

Wassalamu’alaikum wr, wb,

Abu Sangkan Paraning Wisesa

 


 

Tubuh Bergetar










Written by Administrator   

Thursday, 13 September 2007

From: Erwin R. Nasution < erwinrn@c...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it >
Sent: Tuesday, August 28, 2001 5:40 PM

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh


Pak Abu Sangkan yang saya hormati.

Berikut ini adalah masalah getaran yang saya alami di seputar ibadah. Dimana setiap kali saya ingin berwudhu, setelah "membaca" niat dalam hati maka seringkali tangan kiri (tidak pernah terjadi dengan tangan kanan) saya bergerak sendiri ke arah keran air.

Di dalam sholat saya 'baru' bisa merasakan getaran tersebut pada saat takbiratul ihrom yang pertama saja, pada saat mengucapkan syahadatain; dimana jari telunjuk saya bergerak ke atas dengan sendirinya dan pada saat mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, dimana saya merasakan bahwa kepala saya ada yang memutarnya.

Permasalahan terjadi pada saat sholat dan berdo'a atau dzikir sesudah sholat, dimana sudah beberapa kali ini saya merasakan adanya getaran yang justru  "mengganggu" jalannya sholat saya, bahkan kalau saya pasrahkan mungkin saya akan bisa terjatuh. Sedangkan dari buku-buku agama yang saya baca, posisi sholat yang paling baik adalah berdiri dengan tegak kokoh. Menurut bapak kenapa hal ini terjadi? Apakah ini sesuatu yang buruk? Apakah hal ini dibenarkan menurut syariat?

Mungkinkah getaran-getaran yang saya rasakan tersebut berasal dari sesuatu yang tidak baik, mis. dari jin, setan, dsb, yang ingin mengganggu saya? Apabila hal itu dimungkinkan, bagaimana kita membedakan mana getaran yang 'baik' dan mana yang 'buruk'. Pertanyaan terakhir saya, apakah hal-hal seperti ini (gerakan-gerakan yang terjadi terhadap tubuh kita 'diluar keinginan' kita tersebut dibenarkan oleh Qur'an dan Sunnah?

Pak Abu Sangkan, sebelum dan sesudahnya saya mengucapkan terimakasih banyak. Saya sangat berharap bapak bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tersebut.

Wassalam,

Erwin R. Nasution



 

Tanggapan untuk Sdr.Erwin R. Nasution ( erwinrn@...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it )

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh …

Sering kali kita mendengar kata bergetar digunakan untuk penyebutan sesuatu yang sulit di bahasakan secara verbal. Belum ada satu kalimat yang tepat yang bisa mewakili arti dan menunjukkan keadaan yang dirasakan orang, seperti getaran cinta, getaran rasa, getaran emosi, getaran gelombang elektromagnetik, getaran suara, getaran wahyu atau ilham .

Al Qur’an juga tidak secara gamblang menggambarkan keadaan Iman (ciri-ciri) yang sebenarnya, disana hanya disebutkan wajilats quluubuhum (bergetar hatinya, Al Anfaal:2 ), taq syairru minhu juludulladzina yakhsyauna rabbahum ( gemetar karenanya kulit/fisik orang-orang yang merasa takut kepada Tuhannya, Az Zumar :23).

Memang sulit bagi mufassir, penyair, seniman musik, pelukis atau filosof untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan secara transenden, sehingga mereka hanya mampu merangkai kata, bunyi, warna, sebagai ungkapan kedalaman makna dan arti yang tidak berasal dari apa yang bisa digambarkan seperti naluri, insting, inspirasi, ilham atau wahyu !! Yang turun melalui getaran penuh muatan makna dan pengertian yang berasal dari ilahi.

Sebelumnya saya akan mengajak anda untuk memperhatikan firman Allah surat Azzumar ayat 22-23, sebagai kajian mengenai getaran yang diakibatkan oleh proses dzikir, selanjutnya juga akan kita bahas secara universal dan ilmiah baik segi fisiologi maupun psikologi.

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima ) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) ? maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata .

….gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu menginat Allah (dzikrullah) , itulah petunjuk Allah.

Penjelasan pada ayat diatas diawali dengan "terbukanya hati orang yang menerima cahaya Islam dari Tuhannya (pencerahan)‘, kemudian bergetar ( terguncang) fisik orang yang menerima cahaya atau pencerahan dari Tuhannya, lalu proses itu berlanjut dengan adanya harmonisasi antara fisik dan hati tatkala mengingat Allah ….itulah petunjuk Allah. Mungkin bisa saya tegaskan disini keadaan itu merupakan hal yang universal dan alami, bukan klenik atau khurafat .

Rasulullah pada saat pertama kali menerima wahyu di goa Hira mengalami guncangan tubuh atau beliau menggigil yang amat sangat, sehingga Siti Khadjah menyelimutinya . padahal udara di luar sangat panas. Sedangkan Siti Aisyah ra berkata : "Aku pernah melihat saatnya turun wahyu kepada Nabi pada suatu hari sangat dingin, kemudian Aku lihat dahi Nabi bercucuran keringat, pada saat itu aku menyekanya".

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah ibn ‘Umar ra, "saya bertanya kepada Nabi Saw. apakah engkau merasa bahwa wahyu akan datang ?" menjawab Nabi : "Kadang-kadang aku dengar suara gemerincing lonceng yang sangat keras, sesudah itu akupun terdiam mendengar itu. Tiap-tiap kali wahyu datang demikian aku merasa jiwaku akan dicabut". ( Rasulullah merasakan keadaan seperti ini yang paling berat dirasakan )

Kisah yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Shafwaan ibn Ya’la ibn Umayyah :

Ya’la berkata : Sementara Nabi berada di Ja’ranah, berteduh dibawah sehelai kain beserta beberapa shahabat, tiba-tiba datanglah seorang Badawy berbaju jubah yang berlumur dengan bau-bauan, lalu bertanya ; "Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau mengenai seorang yang berihram untuk umrah dengan memakai jubah yang berlumuran bau-bauan ?" maka Umar memberi isyarat kepada Ya’la, mengajak masuk ketempat Nabi berteduh, Ya’la melihat Nabi telah merah mukanya dan terus tertidur serta mengeluarkan orokan seperti orang epilepsy . Sesaat kemudian Nabi sadar , lalu Nabi berkata : "Mana orang yang baru bertanya tentang umrah". Sesudah orang itu di cari dan datang, Nabi berkata : "bau-bauan itu hendaklah kamu basuhnya tiga kali. Sedangkan jubah itu haruslah kamu tanggalkan dari badanmu. Sesudah itu berbuatlah apa yang kamu buat untuk haji".

Para orientalis Barat telah mempergunakan riwayat ini untuk menuduh Nabi Saw. orang yang telah kehilangan kesadarannya karena terserang epilepsy . Padahal nyata dari memperhatikan riwayat-riwayat itu, bahwa Nabi sesudah mengalami yang demikian itu, lalu memanggil juru tulisnya untuk menuliskan soal yang ditanyakan kepadanya tadi.

(Kepustakaan : Sejarah dan pengantar ilmu Alqur’an/ Tafsir , M Hasbi Ash Shiddiqy , Bulan Bintang, Jakarta 1954 )

Selanjutnya saya akan membahas "getaran" sebagai sesuatu yang alamiah bukan sebagai hal yang dianggap mistik kurafat atau bid’ah oleh sebagian kalangan .

Le Shan dalam bukunya yang terkenal How to Meditate, menyebutkan bahwa meditasi dan berfikir transendental dapat menambah ketahanan kulit terhadap aliran listrik hingga 400 persen. Ia juga menegaskan bahwa keadaan jiwa pada saat bermeditasi secara mendalam, merupakan puncak ketenangan yang dapat menolak segala emosi dan keruwetan pikiran.

Diantara perubahan kejiwaan yang betul-betul dirasakan oleh orang yang mengikuti latihan meditasi atau dzikir adalah tercapai perasaan tenang, sampai pada tingkatan pengetahuan pribadi yang tinggi, dan pada perasaan yang indah yang menggelorakan hubungan individu yang intim, penuh keoptimisan, dan perasaan mampu untuk berkarya dan berfikir jernih .

Saya berpendapat bahwa perasaan yang luar biasa ini adalah perasaan diatas alam materi yang dapat dirasakan - bukanlah hanya omong kosong atau sekedar pengalaman pribadi seseorang. Perasaan itu merupakan suatu kebenaran yang dapat dibuktikan dengan adanya kesamaan yang universal dalam pengalaman kehidupan rohani pada para rohniawan dari ahli ibadah diseluruh dunia. Mereka dapat mencapai tangga-tangga pengetahuan yang diperoleh melalui getaran-getaran makna . Kesamaan pengalaman universal tersebut memberi bukti kebenaran pengalaman mereka itu yang didalam Alqur’an disebut sunnatullah ( ketetapan Allah, hukum alam ).

Sebenarnya potensi ini sudah disediakan oleh Allah didalam fisik maupun rohani kita, hanya saja sering dihambat oleh kata-kata Bid’ah dan khurafat, yang menyebabkan orang Islam takut mendalami tafakkur atau berdzikir dengan baik dan meneliti dampak kejiwaan seperti yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti Barat .

Secara jujur mereka meneliti kejiwaan universal tanpa melihat dari sisi agama yang dianutnya. Mereka berfikir bersih dan jujur dengan apa yang diketahuinya.

Dalam tulisan ini saya sengaja memaparkan masalah tersebut dalam upaya menerangkan pengaruh pikiran, emosi, dan jiwa terhadap kesehatan jasmani atau bertambahnya daya listrik dalam tubuh terutama pada otak serta pengaruh terhadap meningkatnya zat-zat kimia yang banyak memberikan pengaruh ..terhadap ketenangan, fenomena fikiran, halusinasi, getaran tubuh dll , semuanya berupa kajian ilmiah yang tidak bisa dikatakan klenik atau mistik .

Mari kita buang jauh-jauh pikiran yang membatasi kajian universal terhadap fenomena yang sering muncul dari mental dan kejiwaan kita sendiri, atau kita perhatikan proses latihan yang dilakukan oleh aliran tenaga dalam, prana, taichi, olah rasa, subud, meditasi, dan bagaimana pendapat mereka tentang pengalaman yang didapat.

Semua terjadi secara alami dan fitrah yang dapat dirasakan oleh setiap orang. Getaran yang diperoleh secara alami tidak bisa dikatakan berasal dari jin atau syetan, dan hanya orang yang sempit pikirannya dalam memahami kejiwaan sehingga berpendapat bahwa sesuatu yang alamiah dikatakan bid’ah atau khurafat.

Saya kurang sependapat dengan orang yang mengatakan demikian, karena peristiwa sensasi yang memunculkan gerakan-gerakan yang tidak teratur, disebabkan terlalu banyaknya daya listrik yang dihasilkan yang memenuhi pusat otak dan tidak mampu disalurkan dengan baik ke seluruh jaringan syaraf, hampir sama dengan peristiwa ledakan listrik yang diperoleh penderita epilepsi, yang mengakibatkan terjadinya guncangan-guncangan yang tidak beraturan.

Seperti yang telah dikatakan oleh Le shan bahwa, bagi orang yang melatih meditasi akan menghasilkan ketahanan terhadap getaran listrik hingga 400 persen dari orang normal. Sehingga jika daya yang besar ini belum tersalurkan dengan baik maka akan menimbulkan gerakan-gerakan sensasional yang tidak beraturan., Akan tetapi jika sensasi gerakan-gerakan itu dibiarkan lepas, maka dengan sendirinya gerakan itu akan reda dan tubuh anda akan semakin ringan serta pikiran, hati dan gerakan tubuh akan serasi. Hal ini telah dilakukan bertahun-tahun oleh kaum Tao dalam menyelaraskan keseimbangan pikiran, jiwa dan tubuh yang menghasilkan gerakan harmoni yang gemulai seperti gerak taichi yang indah .

Gerakan tai-chi merupakan gabungan antara olah jiwa dan gerak atau meditasi gerak, dimana seseorang yang sudah mencapai keadaan ini, akan merasakan penyatuan dengan gerakan alam yang harmoni.



Mengapa Timbul getaran dan gerakan yang tidak beraturan ?

Untuk memudahkan dalam memahami hal tersebut saya akan kutip beberapa pendapat yang bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya baik secara ilmiah maupun penafsiran ulama yang cukup kuat pada masa sekarang.



 Pada awalnya memang demikian, hampir seluruh orang yang mampu megkonsentrasikan pikirannya kepada satu objek dengan baik mereka akan mengalami dan merasakan getaran yang menyelimuti tubuhnya. Anda bisa membuktikan sendiri daya energi dalam tubuh anda. orang-orang yang melatih meditasi tai-chi atau yoga, psikhotronika  dengan cara mengendorkan tubuhnya kemudian dia merasakan energi chi yang mengalir dalam tubuhnya. Bertambah lama bertambah kuat energi yang dihasilkan, akibatnya terkadang akan mengguncangkan tubuhnya dengan sangat keras atau bahkan seperti orang kesurupan dan epilepsy. Mengapa demikian ?

Berikut ini saya kutip pendapat J.B.S Haldane, hasil penelitiannya mengenai teori kuantum tentang kesadaran, seorang ahli biologi. Pada tahun 1950-an, fisikawan David Bohm mengamati adanya ‘analogi yang kuat antara proses kuantum dan pengalaman bathin dan pemikiran”. Sebagian teori modern mengarah pada penelitian tentang kesatuan atau koherensi kuantum (quantum unity atau quantum coherence) di suatu tempat di dalam struktur-struktur sel saraf di air di dalam sel saraf, di microtubule sel saraf, atau dalam aktivitas tertentu di dalam membran saraf, akan tetapi semua teori ini berfokus pada aktivitas mikro di dalam sel saraf tunggal. Baik problem ikatan (binding problem) maupun penelitian MEG (Magneto-Encephalography ) tentang osilasi 40 Hz menunjukkan bahwa kohenrensi diantara sel-sel saraf yang berbeda. Jadi, persoalannya sekarang adalah : apakah kohenrensi kuantum berskala besar juga ditemukan di seluruh bagian otak ??

Mari kita mulai dari sini ; apakah yang membuat syaraf tunggal itu berosilasi  ? Diketahui bahwa aktivitas listrik yang berirama di dalam membran sel saraf itulah yang menjadi penyebabnya. Seluruh membran sel saraf dihubungkan dengan terowongan yang jika dirangsang secara kimiawi atau elektris memungkinkan ion (atom bermuatan listrik) melalui terowongan tersebut. Terowongan ini biasa dikenal sebagai terowongan ion. Oleh karena bermuatan listrik, ion-ion itu menghasilkan medan listrik ketika mereka bergerak disepanjang terowongan. Aktivitas ini menimbulkan osilasi elektris di dalam sel saraf itu sendiri. Medan listrik di seluruh bagian otak yang mengandung osilasi 40 Hz itu merupakan fenomena kolektif dari osilasi sel saraf tunggal. Pertanyaannya kemudian: apakah medan listrik di seluruh bagian otak itu merupakan medan listrik kuantum, yang didalamnya osilasi 40 Hz merupakan osilasi kuantam yang terrpadu ?

Michael Green dari City University of New York baru-baru ini mengajukan hipotesis bahwa aktivitas didalam ion sel syaraf itu dipicu oleh fenomena terowongan kuantum (quantum tunneling phenomena) Terowongan kuantum adalah suatu proses ketika suatu partikel mampu menerobos energi penghalang  (barrier energy) dengan mengubah dirinya menjadi gelombang sebelum akhirnya menjadi partikel kembali di sisi seberangnya. Penjelasan ini sangat sesuai dengan pengamatan, jadi besar kemungkinan bahwa aktivitas kuantum di dalam terowongan ion tunggal itu memang benar-benar terjadi .(SQ, Danah Zohar dan Ian Marshall terj. Jalaluddin Rahmat, hal.74 )

Selanjutnya saya akan menterjemahkan secara bebas kitab tafsir karangan Prof. Mohammad Ali Ash Shobuni mengenai getaran sebagai proses datangnya petunjuk yang dimaksud dalam surat Az Zumar : 22-23

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah, itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk.

Ayat diatas memberikan ulasan bagaimana Allah membuka hati orang yang berdzikir, lalu memberikan Nur Ilahy sebagai petunjuk, kemudian dilukiskan orang yang tidak mendapatkan cahaya (hidayah) dari Tuhannya, sehingga mereka menemui jalan kesesatan disebabkan tidak mau berdzikir kepada Allah. 

Ali Ash Shobuni, menafsirkan ayat 22 tersebut, yaitu Allah memberikan karunia keluasan hati (pencerahan) untuk menerima Islam (ajaran-Nya). Dan memberikan tuntunan terhadap hatinya dengan cahaya-Nya sehingga muncul rasa teguh atau mantap dalam hatinya. Yaitu rasa yang muncul dari bashirah dan keyakinan untuk menerima perintah dari Tuhan-Nya. Kemudian beliau menjelaskan bahwa kecelakaan yang besarlah bagi orang yang tidak mau berdzikir atau tidak khusyu’ ketika berdzikir kepada Allah dan mereka dalam kesesatan yang nyata. 

Ayat berikutnya Allah menjelaskan bagaimana proses petunjuk itu diturunkan kepada orang yang berdzikir. Yaitu tampak bagi orang mukmin itu tanda-tanda keimanannya rasa ketakutan yang dalam tatkala dibacakan ayat-ayat Allah sehingga ia bergetar tubuhnya, disebabkan kedahsyatan yang hebat akan kalam Yang Maha Rahman. Kemudian menjadi lunak, tenang ,kulit (fisik) dan hati mereka tatkala mengingat Allah, yaitu,  tathmainnu (tenang) dan taskun (diam/hening) hati dan fisiknya (hati dan fisiknya sudah menjadi satu) tatkala mengingat Allah .

Bahkan lebih dalam lagi ditafsirkan oleh para Arifin (Ahli Ma’rifat), Apabila mereka melihat Alam Keagungan Allah maka mereka pingsan (thasyu). Dan apabila mereka melihat atsar dari keindahan alam maka mereka menjadi hidup hatinya (‘Asyu).  Dan berkata Ibnu Katsir : Hal ini merupakan bukti adanya kekuatan dari kalam Yang Maha Perkasa.

Demikian penafsiran dari para Ulama besar yang menyebutkan bahwa proses turunnya hidayah kepada orang-orang mukmin akan mempengaruhi fisik yang masih belum sinkron dengan hati yang tercerahkan, akan tetapi pada ayat tersebut terdapat kata tsumma yang artinya “kemudian”, menunjukkan bahwa getaran terhadap fisik itu akan berubah menjadi lunak, hening bahkan hati dan fisik tidak lagi bersimpangan tatkala berdzikir kepada Allah, hal ini bisa dirasakan apabila dijalankan dengan benar. (Diterjemahkan secara bebas oleh Abu Sangkan dari kitab Tafsir : Shafwatut Tafaasir, karangan Prof. Mohammad Ali Ash Shobuni, Beirut).

Wassalamu’alaikum wr, wb,

#Abu Sangkan#

 


Transenden











Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   14


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə