Tuhan menyiksa dirinya



Yüklə 0,51 Mb.
səhifə6/14
tarix09.03.2018
ölçüsü0,51 Mb.
#45240
1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   14

 

< Prev

 

Next >

 

Shalat terlalu cepat










Written by Administrator   

Thursday, 13 September 2007

From: kelana lana[SMTP: kelana@...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ]
Sent: Wednesday, December 13, 2000 4:02 PM
Subject: Sholat berjamaah ( terburu-buru )

Assalamu'alaikum wr. wr.

Bapak sangkan yang dicintai Allah...

Sehubungan dengan potongan paragraf di atas, saya ada permasalahan sebagai berikut

Setelah membaca artikel-artikel pada milis ini, kemudian mempraktekkannya, alhamdulillah ada perubahan pada diri saya. Saya insyaallah sekarang lebih khusyu dalam bersholat. Saya menikmati sholat. Saya seperti merasakan berdialog ( mengadu ) pada Allah dalam sholat saya. Intinya saya merasakan kehadiran Allah dalam sholat (ihsan). Karena itu, sholat saya menjadi agak lama, pelan-pelan, kadang menangis atau bergetar. Permasalahannya, jika saya sholat berjamaah dan saya menjadi makmum, khusyu itu akan sulit saya dapatkan, karena sebagai makmum saya harus mengikuti Imam dan sering kali irama sholat imam terasa "cepat" bagi saya.

bagaimana caranya mendapatkan khusyu pada sholat berjamaah yang imam-nya terasa "cepat (terburu-buru)" dan "kurang menghadirkan hati". Apakah Bapak punya kiat-kiat tertentu untuk menghadapinya..?

terima kasih atas perhatian Bapak

wassalam,

kelana

 

Tanggapan Untuk Sdr. Kelana Lana

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh….

Anda telah merasakan kehadiran Allah dalam shalat, merasakan berdialog dengan Allah…shalat menjadi agak lama, pelan-pelan, kadang menangis atau bergetar… Berarti anda telah merasakan sendiri kebenaran surat Maryam:58, anda dengan sendirinya telah mengimani secara hak bukan katanya Abu sangkan atau orang lain. anda telah membenarkan ucapan Rasulullah sekaligus sebagai saksi atas kebenarannya …bukan ikut-ikutan karena doktrin…inilah yang membedakan antara iman karena doktrin/pikiran dan iman karena anda mengalaminya sendiri ….mudah-mudahan Allah membukakan hati kita ….

Anda merasakan kesulitan ketika berjama'ah shalat karena sang Imam terlalu cepat (terburu-buru) akibatnya anda terganggu dalam berkomunikasi kepada Allah….

Pada awalnya saya mengalami hal yang sama dengan anda ..saya tidak puas ketika shalat berjama'ah, saya sedih mengapa orang itu begitu terburu-burunya menghadap Allah, padahal Allah ada dihadapannya… apakah ia tidak menyadari bahwa shalat itu sedang melakuan pembicaraan serius dengan raja di raja yang menciptakan alam semesta… mengapa tidak ada rasa hormat kepada Allah….mengapa terburu-buru ….seandainya ada getaran iman itu mengalir dalam hatinya mustahil dia berani berbuat curang di dalam shalatnya … sebagaimana kita tidak berani berbuat tidak senonoh dihadapan president kita … Kita telah melakukan perbuatan lebih dari itu …karena telah meremehkan Tuhan …. yang maha melihat ..maha mendengar …dan maha kuasa ….

Jika anda menemukan imam seperti itu ..tetaplah anda berkomunikasi dengan rasa ihsan, terutama ketika shalat Jum'at, sebab shalat Jumat merupakan shalat yang wajib berjamaah, …namun di luar itu sebaiknya saya menyarankan latihlah dulu shalat sendiri, sampai anda menjadi kuat ketika shalat bersama imam yang shalatnya dengan kecepatan kilat sekalipun !! lakukanlah shalat sunnah untuk menikmati komunikasi kepada Allah … Agar kita menjadi damai dan tentram …..

Akan tetapi jika anda menemukan seorang imam yang jiwanya bersih dan khusyu' biasanya rohani anda langsung menangkap , sehingga anda merasakan getaran kekhusyuan orang tersebut ..dan rohani yang bersih tadi saling mendorong dan menguatkan jiwa sehingga terasa sekali ke khusyu'an kita bertambah kuat, kalau bertambah satu lagi yang kusyu' dan bersih ..daya itu bertambah lagi menguatkan kekhusyu'an kita, begitu seterusnya …mungkin inilah yang dimaksudkan shalat berjamaah itu mengandung manfaat yang sangat luar biasa …bahkan dikatakan mempunyai nilai 27 derajat….

Sekali lagi …sebaiknya lakukanlah shalat sendiri (bukan berati saya melarang shalat berjamaah. Hal ini hanya untuk menguatkan dan melatih shalat yang masih dalam tahap belajar khusyu'). Bukankah ada kriterianya untuk menjadi seorang imam shalat ?? Ialah : Bacaan Alqur'annya yang fasih diantara mereka, Kalau semuanya fasih, carilah yang paling tua usianya, kalau ternyata mereka berusia setara, carilah yang berakhlak mulia, dan yang terakhir yang paling baik shalatnya / kekhusyuannya….

Sebenarnya untuk memilih itu sulit di lakukannya, karena kebanyakan shalat jaman sekarang sudah banyak meninggalkan nilai kekhusyu'an….atau nilai kesadaran ihsannya.

Kalau saya menyarankan untuk shalat sendiri karena saya mendasari dalil kriteria di atas…mudah-mudahan tidak menjadi polemik…karena tujuan saya jelas untuk melakukan yang lebih baik……

Kalau anda sudah merasakan kekhusyu'an itu menguasai jiwa dan tubuh anda, maka anda tidak akan terganggu dengan kebisingan suara musik yang keras…anda tidak merasakan gigitan nyamuk ….tubuh anda terasa ringan dan anda bisa shalat bersama orang yang shalatnya lebih cepat dari anda ..karena jiwa yang khusyu tidak akan terganggu dengan apapun karena khuyu' itu adalah cinta kepada Allah ….anda tidak akan terpengaruh oleh pola gerakan itu !!

Cobalah anda disiplin patrap walaupun hanya setengah jam dalam sehari, karena patrap akan banyak membantu terbukanya hati yang keruh …

Salam


Abu Sangkan

Semasa ingat itulah kita













Written by Administrator   

Thursday, 13 September 2007

jameyah[SMTP: jamzam@...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ]
Sent: Thursday, November 09, 2000 4:29 PM

Assalamualaikum..

Saya pernah diberitahu "semasa kita ingat itulah kita dan semasa kita lupa itulah Dia".... boleh tolong jelaskan ... dan bilakah yang dikatakan ingat? dan bilakah yang dikatakan lupa?

terima kasih.

jam/pg

 

Tanggapan untuk Sdr. Jameyah ( jamzam@...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ))



Assalamu'alaikum wr. wb.

saya ulangi pertanyaan anda , semasa ingat itulah kita dan semasa lupa itulah Dia bilakah dikatakan ingat dan bilakah dikatakan lupa

Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun jawabannya akan menyangkut berbagai hal pengetahuan ketuhanan. Sebab hal ini tidak akan bisa dimengerti jika tidak dirangkai oleh peristiwa atau keadaaan yang mendukung pengertian atas pertanyaan tersebut diatas. Keadaan itu adalah hasil perjalanan seorang sufi yang tidak bisa diurai oleh kata sederhana. Kita harus kembali kepada asal muasal kejadian manusia serta eksistensi Tuhan secara hakiki. Hal ini pernah di urai dalam surat Al hijr 28-29

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepda malaikat ; sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalam ruh-Ku maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud "

Sebelum ada bentuk yang terbuat dari lumpur, sebelum wujud anda ada, sebelum ruh itu di hembuskan kedalam lumpur hitam itu … "ingat" atau kesadaran itu tidak ada. Yang ada adalah AKU (Allah). Laa syaiun illallah (tidak ada sesuatu kecuali Allah). Pada keadaan anda TIDAK ADA" itu, Allah tidak bisa dilihat oleh mata ... tidak serupa dengan makhluknya, tidak bisa dijangkau oleh pikiran dan perasaan, dan tidak berupa apa yang anda pikirkan … dan Allah bersih dari dhzan / konsepsi manusia …. Dia suci dari segala anggapan manusia dan makhluknya .(lihat As syura:11)

Keadaan sebelum ada sesuatu itu dalam tasawuf disebut FANA (tiada/ hancur/ lebur). Itulah hakikat tauhid yaitu tiada satupun yang "ADA" kecuali Allah sendiri (Qiyamuhu binafsihi)…. Para sufi dalam suluknya bertujuan menelusuri hakikat diri untuk mencapai hakekat ketuhanan, ... bukan penyatuan dengan tuhan (hulul)

Fana adalah mengembalikan citra keadaan seperti peristiwa penciptaan pada awal mula. Ialah ketika belum ada apa-apa yang ada hanya Allah, ... itulah fana atau tauhid, pengesaan adanya tuhan ... tiada sesuatu disampingnya …. Fana bisa berarti tiada / lupa … ketika anda tiada / lupa itulah hakikat Tuhan, karena jika anda masih ada, maka anda tidak akan bisa melihat hakiki Tuhan. Karena akan bercampur dengan konsepsi diri anda dan alam, padahal Tuhan tidak bisa diserupakan dengan makhluknya … selama manusia itu ada, ... selama itu pula manusia melihat Tuhan dengan sangkaanya, bukan hakikinya. Seperti yang maha pengasih, ... yang maha gagah, ... yang maha adil,…semua itu adalah konsepsi manusia, dan merupakan hijab untuk melihat hakiki Tuhan … untuk melihat yang sebenarnya, anda harus tiada ...

Kesejatian itu akan tampak, ... bukan konsepsi manusia (innani ANA Allah, laa ilha illa ANA, fa'budni), … sesungguhnya AKU ini Allah, tiada tuhan kecuali AKU, maka sembahlah AKU …(Qs: Thaha:14)

Keadaan awal, (Al awwalu) tidak ada yang wujud selain Allah, tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada alam apapun yang tercipta. Untuk mengetahui keadaan hakiki, marilah ikuti kisah nabi Musa as.

"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat) dengan Kami, pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. Berkatalah Musa: ya tuhanku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku. Agar aku dapat melihat kepada Engkau. Tuhan berfirman ; kamu sekali- kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagaimana sedia kala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatakala tuhan nampak bagi gunung itu. Kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa jatuh pingsan, maka setelah Musa sadar kembali dia berkata . maha suci Engkau dan aku bertaubat dan aku orang yang pertama-tama beriman…" (Al A'raaf:143)

Ayat ini menjelaskan prosesi pertemuan antara Nabi Musa dengan Tuhan- Nya, ... karena selama itu …Musa menerima firman-firman melalui wahyu..yang dihembuskan melalui qalbunya, .dan beliau bercakap-cakap dibalik hijab … Ketidak puasan itu diungkapkan langsung kepada Allah, sehingga Allah mengajak untuk melihat kesejatian Tuhan dengan menampakkan wujud dirinya, … tatkala Tuhan nampak bagi gunung itu, maka gunung tersebut hancur luluh dan Musa pun pingsan !! Itulah pertemuan Musa yang sebenarnya, ... yaitu keadaan lebur bersama alam (gunung) …dia hancur .... konsepsi Musa tentang Tuhan juga tiada, … sehingga yang ada hanya konsepsi hakiki Tuhan sendiri.

Musa berkata : saya benar-benar percaya (beriman) saya harus kembali kepada-Nya (taubat=kembali) Musa telah melihat Tuhan dengan sebenar- benar pandangan makrifat ... bukan dengan pikirannya, ... bukan dengan hatinya, ... bukan dengan jiwanya, ... bukan dengan keberadaannya, … tetapi dia melihat dengan ketiadaannya (kefanaannya) dalam pingsan itu Musa makrifat (melihat), sehingga ia bisa bercerita. Ternyata benar, bahwa Tuhan itu tidak sama dengan makhluknya, ... tidak bisa dibayangkan oleh pikiran dan perasaan, … Tuhan tidak laki-laki dan tidak perempuan …. Tuhan tidak bisa dilihat oleh mata hati, … tidak bisa dirasakan oleh rasa … Itulah HAKIKAT yang sebenarnya. Pada keadaan tidak ada (lupa/pingsan) Musa melihat dzat Tuhan bukan sifatnya …

Tatkala anda ada (ingat) anda tidak bisa melihat hakiki Tuhan Tatkala anda tiada (lebur / fana ), Tuhan tampak secara hakiki.

Saya akan tambahkan perumpamaan orang pingsan. Saat anda pingsan … apa yang anda rasakan …. Anda akan mengatakan : "saya tidak tahu apa-apa, … saya tidak mendengar suara orang. Saya lupa segala sesuatu, … rasanya saya tidak sadar … rasanya bukan seperti tidur … dan saya tidak ingat, berapa lama saya pingsan …."

Pertanyaannya adalah, … siapakah yang tahu keadaan anda pingsan ? padahal anda tidak sadar, ... tidak tahu apa-apa ... tetapi anda begitu gamblang menjelaskan keadaan pingsan tersebut, … seperti tidak ada keraguan dalam penjelasan anda. Anda mengatakan keadaan disana tidak sama dengan keadaan disini, ... tidak ada suara apa-apa, ... tidak seperti alam tidur, tidak ada mimpi … tidak ada fikiran dan tidak ada perasaan disana ... tidak ada ruang, ... tidak ada waktu dll. Sehingga pengalaman itu disebut mengalami keadaan PINGSAN, bagi yang tidak pernah mengalami pingsan ... dia tidak akan tahu keadaan pingsan tersebut, … karena konsepsi pingsan dibandingkan dengan keadaan saat dia tidak pingsan ... artinya keadaan disana dia perbandingkan dengan konsepsi pikiran perasaan pada dirinya sekarang (sadar). Padahal disana tidak ada pikiran, perasaan, dan pandangan mata. Pada saat itu manusia tiada lagi mempunyai konsepsi dan persepsi …

Demikian mudah-mudahan Allah swt. membuka hati kita untuk memahami masalah makrifat ini … amin

Disarankan membaca ulang bab membuka hijab…

Salam,


Abu sangkan

 


Roh shalat













Written by Administrator   

Thursday, 13 September 2007

Zuchdi Anwar[SMTP: zuanwar.neb@...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ], wrote:
Sent: Wednesday, December 06, 2000 9:01 AM
Subject: Roh sholat

Assalamu'alaikum wr wb,

Pak Abu Sangkan,

Saya mau tanya mengenai roh dan yg hidup dan menghidupkan didalam tubuh kita manusia ini, meskipun di artikel sebelumnya Pak Abu telah menjelaskannya mengenai roh, tapi saya belum menemukan jawaban dari apa yang akan saya tanyakan.

Awalnya begini Pak Abu, menurut aturan fiqihnya ucapan sewaktu sholat harus diucapkan dengan perlahan (dalam arti kata mulut kita bergerak dan terdengar suaranya meskipun sedikit...dari selama ini yg saya diajarkan dan dari beberapa buku menjelaskan demikian). Tapi karena saya sering dzikir dan itu selalu dalam hati kemudian saya terapkan sewaktu saya sholat (karena disaat sholatlah kita menghadap Allah dan sementara Allah itu Dzatnya ghoib) dan saya merasakan hal yang sangat jauh berbeda....karena yang sholat saat itu adalah saya yang hidup dan berhadapan langsung dengan yang menghidupkan saya....dalam arti kata saat itu saya hanya merasakan suara hati saya ("yg hidup") yang berucap takbir dsb....tubuh ini terasa tidak ada (meskipun saya mengangkat kedua belah tangan sewaktu takbir atau rukuk dan sujut) dan yang ada saat itu hanyalah kehidupan/roh/nyawa/jiwa saya dan suatu rasa yg "sangat aneh" yaitu ada sesautu yang "menghidupkan saya".

Saya sempat terpana beberapa hari dengan pengalaman ini dan sering saya mendiskusikan dengan teman yg lebih 'paham' atau dengan mencari penjelasan dari beberapa buku dan selalu jawabannya adalah ucapan sholat itu harus dilafazkan padahal dengan cara diatas sholat saya terasa lebih khusuk. Mohon penjelasannya dari Pak Abu, bagaimana sebenarnya sholat ini dan apa yang telah saya alami diatas.

Selain itu, dari beberapa penjelasan saya sempat mendengar bahwa kehidupan dalam diri manusia ini terdiri dari :
jasmani --> roh --> nyawa --> yang menghidupkan --> pekerti --> dan yg "paling ujung" adalah Nur Muhammad. Mohon dijelaskan Pak.

Sekian dulu dan terima kasih atas penjelasannya.

Wassalam,

zuhdi anwar

(santri Dzikrullah di batam)

Tanggapan Untuk Sdr. Zuchdi Anwar ( zuanwar.neb@...This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it )

Assalamu'alaikum Wr, Wb,

Mengenai fikih dalam shalat, sebenarnya anda telah dan sedang melakukan rangkaian aturan fikih dalam shalat tersebut ….anda tidak perlu risau dengan keadaan yang anda alami …karena memang demikian adanya…tuntunan itu dan tidak seorangpun yang bisa mencegahnya … bahkan mengajarinya kecuali bimbingan-Nya. Biarkan keadaan itu berlangsung demikian …karena jiwa itu bersifat luas ... tak terbatas, sehingga anda merasakan yang ada adalah HIDUP … tidak bermata, tidak bertelinga, tidak bertubuh … tidak seperti apa yang kita rasakan sekarang. (tubuh kasar ini )

Coba anda rasakan sendiri ketika anda memejamkan mata …apa yang anda rasakan..ialah kesadaran hidup atau kesadaran ADA …itulah diri anda yang sebenarnya … Ketika anda menjadi jiwa anda ketika shalat, maka anda tidak merasakan adanya tubuh ini, karena memang anda bukanlah tubuh ini …karena tubuh ini hanyalah alat, ... akan tetapi mereka yang melihat anda ketika shalat tetap seperti biasanya orang shalat, ... tidak ada yang aneh …hanya dilihatnya agak lama ketika berdiri, rukuk atau sujud….Bukankah Rasulullah pernah mengalami shalat subuh lama sekali bahkan sampai menjelang fajar, akan tetapi kita tidak pernah tahu apa sebenarnya yang dibaca ketika rukuk yang panjang itu….Demikian pula Sayyidina Ali, ketika beliau terluka karena panah yang menancap dalam tubuhnya, beliau melakukan shalat dua rakaat, kemudian sahabat yang lainnya mencabut panah itu dari tubuh beliau, ... akan tetapi Sayyidina Ali tidak merasakan apa-apa, ... karena beliau telah meninggalkan alam fisiknya secara rohani, ... menuju Tuhannya.

Biarkan saja ketika anda mengalami shalat demikian, ... biarkan tubuh anda berserah total. Mulut anda tak kuasa mengucapkan sesuatu …ini hanya proses yang harus dilalui …

Suatu ketika saya mengajak rekan-rekan shalat Ashar berjamaah di rumah, diikuti sekitar delapan orang …kami memulai shalat tepat selesai adzan ashar….dalam melakukan shalat, saya membaca surat-surat pendek, membaca bacaan shalat sewajarnya seperti apa yang diatur dalam fikih ….namun ketika shalat itu berakhir .. alangkah terkejutnya para jamaah itu ketika melihat jam dinding menunjukkan angka 5, berarti kami melakukan shalat selama satu jam lebih …akan tetapi para jamaah tidak merasakan shalat begitu lama … mungkin yang mereka rasakan seperti shalat lima menit saja ….

Perihal pertanyaan saudara tentang manusia yang terdiri dari jasmani, roh, nyawa, yang menghidupkan, pekerti, dan yang paling ujung adalah Nur Muhammad.

Pada dasarnya manusia itu hanya ada dua unsur, tubuh yang dibuat dari sari pati alam, kemudian setelah di sempurnakan bentuknya maka di hembuskan ruh-Ku …(Al hijir : 28-29)

Akan tetapi manusia di dalam menjelaskan eksistensi manusia ini terlalu banyak menguraikan masalah sifat-sifatnya se akan-akan manusia terdiri dari banyak unsur seperti apa yang anda uraikan diatas..padahal tidak …. Pertama kali manusia di ciptakan dari unsur-unsur alam dan mempunyai sifat-sifat alami seperti makan, tidur, dll juga manusia mempunyai unsur roh yang berasal dari Allah ..

Dan rohani mempunyai sifat-sifat banyak sekali, sehingga kalau di urai menjadi seakan-seakan terdiri unsur-unsur yang lain….Sifat-sifat itulah yang di namai oleh orang atau kitab-kitab untuk memudahkan manusia dalam membedakannya.

Sampai sekarang kita mengira bahwa hati / kalbu itu benar-benar ada wujudnya. Padahal qalbu itu artinya sifat yang selalu ragu, ... kadang baik, ... kadang jahat …atau sifat yang tidak tetap …kemudian ketika orang melihat kita memiliki sifat tenang bersahaja ramah dll. Maka dianggap orang itu telah mencapai jiwa muth mainnah … padahal itu semua menjelaskan keadaan sifat JIWA manusia ….

Seperti kita ketika menggelari orang yang yang suka mengambil milik orang lain, maka si fulan itu disebut pencuri…dll

Demikian juga dengan istilah Nur Muhammad, yang di populerkan oleh pendapat Al Hallaj bahwa semua alam semesta di ciptakan karena Nur Muhammad, ... artinya alam semesta ini diciptakan karena cahaya yang terpuji yaitu Nur ilahy ... kehendak ilahi, yang teringkas dalam satu kata kun ( jadilah) fayakun ( maka jadilah).

Nur Muhammad bukanlah ujung dari segala sesuatu ... ujung dari segala sesuatu ialah Dzat yang ADA, Yang Maha Tahu, Yang Maha Berkehendak, kemudian kehendak itu terucaplah Kun, dan Kun inilah yang melahirkan nur Muhammad (cahaya terpuji), dan dari kehendak itulah ruh di tiupkan kepada bentuk yang diberi rupa dengan sempurna…. Jadilah manusia yang hidup , yang bergerak, berkehendak …. Karena itu nur Muhammad berada di bawah Kun, Kun berada dibawah Asma, Asma berada di bawah Dzat mutlak, ... karena semua adalah sifat-sifat yang berasal dari Dzat .sehingga Dzat menyebut dirinya AKU……..

Demikan secara ringkas uraian saya, insya Allah suatu saat pada artikel-artikel akan datang saya akan uraikan lebih jelas mengenai hal ini …

Terima kasih

Wassalamu'alaikum Wr, Wb,

Abu Sangkan


Rahasia penciptaan semua makhluq










Yüklə 0,51 Mb.

Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   14




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2024
rəhbərliyinə müraciət

gir | qeydiyyatdan keç
    Ana səhifə


yükləyin