Topik 1: Dzalika Al-Kitabu



Yüklə 1 Mb.
səhifə1/13
tarix26.10.2017
ölçüsü1 Mb.
  1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   13

Topik 1: Dzalika Al-Kitabu

Insya Allah saya akan memulai menulis belajar bahasa Arab dari Al-Quran. Dimulai dari Surat Al-Baqaroh. Tiap posting diusahakan tidak terlalu panjang, agar bisa dicerna dan dipahamkan. Frekeuensi posting juga akan diatur.

Sebagai pembuka, mari mulai dengan surat Al-Baqaroh ayat 1 dan 2.

بسم الله الرحمن الرحيم

الم

Alif - lam - mim : Hanya Allah yang tahu artinya.



ذلك الكتاب

dzalika alkitabu : itu (sebuah) kitab

Pembagian Jenis Kata dalam bahasa Arab:

1. Isim (kata benda)

2. Fi'il (kata kerja)

3. Harf (kata tugas)

Bandingkan dengan bahasa Indonesia atau Inggris, pembagian kata cukup banyak, ada kata sifat (adjective), kata benda (noun), kata tunjuk, kata ganti, kata kerja (verb), dsb.

Kok bahasa Arab pembagian kata sedikit sekali: hanya 3?

Ini pertanyaan awal yang sering muncul pada saat orang baru belajar bahasa Arab.

Sebenarnya tidak. Kata dalam bahasa Arab juga banyak jenisnya. Ambil contoh kata dzalika = itu. Dalam bahasa arab kata ini termasuk kata benda (isim).

Lho kok gitu? Bukannya dalam bahasa Indonesia kata "itu" adalah kata ganti tunjuk, bukan kata benda? Kok dalam bahasa arab kata dzalika = itu, termasuk kata benda?

Bukannya dalam bahasa indonesia kata benda itu, misalkan: rumah, mobil, dsb.

Ya, betul. Dalam bahasa Arab, rumah, mobil dsb itu, juga termasuk kata benda, yang disebut kata benda alam (isim alam), karena benda-benda itu wujud ada di alam. Lalu kata dzalika = itu, disebut kata benda tunjuk (isim isyaroh).

Ooo... begitu... Jadi sebenarnya walaupun dalam bahasa Arab kata hanya dibagi 3 jenis (isim, fi'il, dan harf), tapi isim sendiri terbagi-bagi lagi. Ada isim alam, ada isim isyaroh, ada isim maushul dsb. Insya Allah kita akan bahas satu-satu nanti.

Ooo... kalau memang dzalika = itu, yang dalam bahasa Indonesia disebut kata ganti tunjuk, dalam bahasa arab dia termasuk isim isyaroh. Kalau begitu mengapa pengelompokannya dibagi menjadi 3 bagian? Kenapa gak dikelompokkan misalkan 8 bagian atau sama dengan pengelompokan bahasa Ingris?

Nah disini menariknya bahasa Arab. Ternyata pengelompokan jenis kata menjadi 3 saja itu tujuannya adalah bahwa: hukum-hukum yang berlaku bagi 3 jenis kata tersebut dalam satu kelompok sama. Contoh, setiap isim, tidak terpengaruh waktu. Misalkan kata buku waktu kemaren disebut الكتاب(al-kitaabu), sedangkan waktu besok disebut al-kitaabu.

Bentar-bentar... gak ada bedanya dong sama bahasa Inggris atau bahasa Indonesia... Book dalam kalimat Past Tense, tetap Book dalam kalimat future tense. Ok, Anda benar... Maksud saya hanyalah mengatakan bahwa hukum-hukum isim itu dalam satu kelompok tersendiri. Biar tambah jelas. Kata dzalika (itu), dalam bahasa arab termasuk isim (kata benda), maka kata dzalika itu juga tunduk kepada hukum-hukum isim (misalkan tidak terikat waktu).

Ah... itu sih gampang. Bahasa Indonesia juga begitu kan?

Ok... ok, bangaimana kalau saya katakan selain tidak terikat waktu dalam bahasa Arab hukum isim berubah sesuai dengan jenis kelamin subject? Misal saya sebutkan: Itu buku = ذلك كتاب

Kalau saya suruh Anda membuat kalimat: Itu pohon. Pohon bahasa Arabnya adalah syajaratun شجرة . Apakah anda akan bilang spt ini:

ذلك شجرة

dzalika sajaratun = itu(sebuah) pohon.

JAWABAN ANDA SALAH. Kenapa?

Karena dzalika adalah isim yang terikat dengan hukum-hukum isim, yang salah satunya mengatakan bahwa isim berubah mengikuti jenis kelamin subjectnya. Nah kata kitaab (buku) berjenis kelamin laki-laki, maka kita pakai isim isyaroh (kata tunjuk) berjenis laki-laki juga yaitu dzalika. Lalu kata dzalika ini menjadi tilka, untuk subject yang berjenis perempuan. Kata pohon berjenis perempuan, maka yang betul kalimatnya menjadi

تلك شجرة

tilka syajaratun = itu(sebuah) pohon.

Nah, kira-kira anda kebayang kan..., bedanya dengan bahasa Indonesia?

Ringkasnya:

Dalam bahasa Indonesia, kata benda tidak terikat dengan jenis kelamin dari subject yang dibicarakan. Dalam bahasa Arab, tidak demikian. Contohnya kata "itu" dalam bahasa arab termasuk kata benda, maka dia terikat dengan hukum kata benda yang salah satunya menyatakan: kata itu berubah bentuk sesuai dengan jenis kelamin subject yang dibicarakan. Jadi kata "itu" bisa berupa dzalika (untuk subject laki-laki) atau tilka (untuk subject) perempuan.

-- Nantikan topik selanjutnya: Insya Allah minggu depan.

Diposkan oleh Rafdian Rasyid di 3/22/2007

http://arabquran.blogspot.com/2007/03/belajar-bahasa-arab-dari-al-quran-topik_22.html



Topik 2: Nakiroh Ma'rifah

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada topik 1: telah dibahas secara sepintas pembagian jenis kata dalam bahasa Arab, dimana kata dalam bahasa Arab hanya dibagi 3, yaitu kata benda (isim), kata kerja (fi'il), dan kata tugas (harf). Contoh yang dipakai menggunakan surat Al-Baqaroh ayat 1 - 2. Pada topik kali ini akan dibahas mengenai topik kata benda, mengenai kata benda telah diketahui, dan kata benda belum diketahui.

Baiklah, kita mulai saja.

Pada topik 1, ada penanya (syukron atas pertanyaannya), yang menanyakan kalau memang kata benda (isim) dalam bahasa Arab, sangat tergantung pada jenis kelamin kata (apakah perempuan atau laki-laki), maka bagaimana cara menentukan apakah kata benda ini berjenis laki-laki (male), atau berjenis perempuan (female).

ambil contoh:

ذلك كتاب

dzalika kitaabun = itu (sebuah) kitab. Adalah struktur kalimat yang benar. Karena kata dzalika (berjenis laki-laki), kitaabun (berjenis laki-laki).

ذلك شجرة

dzalika syajaratun = itu (sebuah) pohon. Adalah struktur kalimat yang salah. Karena kata dzalika (berjenis laki-laki), sedangkan pohon (berjenis perempuan).

تلك شجرة

tilka syajaratun = itu (sebuah) pohon. Inilah kalimat yang benar, karena dua-duanya merupakan kata benda berjenis perempuan.

Lalu bagaimana mengetahui suatu isim termasuk berjenis laki-laki atau perempuan?

Untuk kata benda penunjuk (isim isyaroh) spt "ini", "itu", maka tidak ada cara kecuali dihapalkan saja. Wah repot dong.... Gak juga, kata dalam kelompok ini tidak begitu banyak spt:

ذلك

dzalika = itu (laki-laki)



تلك

tilka = itu (perempuan)

هذا

hadzaa = ini (laki-laki)



هذه

hadzihi = ini (perempuan)

Mengenalkan Teman

Bayangkan disebelah anda Ada, Febrianti dan Sutanto. Kemudian datang teman lain yang belum kenal Febrianti dan Sutanto, maka Anda akan berkata:

هذا Sutanto (hadzaa Sutanto), هذه Febrianti (hadzihi Febrianti). Ini Sutanto, ini Febrianti.

Untuk kata benda alam (isim alam) seperti mobil, kantor, perpustakaan, buku dll, maka cara yang paling mudah adalah dengan melihat apakah ada ta marbutoh ة atau ـة (ta tertutup) pada akhir katanya. Jika ada ta marbutoh, maka kata ini termasuk jenis perempuan.

Contoh:

شجرة syajaratun = pohon



بقرة baqoratun = sapi betina

فاطمة fatimah = nama orang

Ada beberapa tanda-tanda lain (yang lebih jarang muncul) untuk isim alam jenis perempuan, tetapi pada kesempatan kali ini kita hanya tampilkan satu yaitu adanya ta marbutoh. Tanda ini paling sering muncul.

Nakiroh dan Ma'rifah

Sekarang kita masuk ke topik baru. Pada saat kita baca ذلك الكتاب dzalika al-kitaabu (buku itu), kata buku كتاب (kitaabu) ditambahkan AL (الـ) menjadi الــكتاب (al-kitaabu), penambahan AL ini maksudnya adalah menjadikan suatu kata benda menjadi sesuatu yang diketahui (definitif), sama halnya dalam bahasa Inggris, untuk memberitakan sesuatu yang sudah diketahui ditambah THE.

Misalkan:

I read a book أقرأ كتابا aqra-u kitaaban

I read the book أقرأ الكتاب aqra-u al-kitaaba

Pada contoh pertama, si pendengar belum mengetahui buku apa yang dimaksud oleh si pembicara. Sedangkan pada contoh kedua si pembicara yakin si pendengar sudah sama-sama tahu buku apa yang sedang dia baca.

Pada contoh pertama, kata kitaab disebut nakiroh (artinya belum definitif, belum diketahui oleh yang mendengar object yang jelas). Sedangkan pada contoh kedua disebut ma'rifah (definitif) yang artinya pembicara yakin pendengar tahu secara pasti (definitif) object mana yang disebut.

Kembali ke surat Al-Baqaroh:

ذلك الكتاب dzaalika al-kitaabu

maka kitaab (buku) disini ma'rifah, artinya pembaca ayat ini diasumsikan sudah tahu kitaab apa yang dimaksud. Dzalika Al-kitaabu = buku itu, atau bisa dibaca buku (yang kalian sudah tahu tentangnya) itu. Menurut tafsir, maksud dari "buku itu" adalah Al-Quran itu sendiri.

Demikian pembahasan ringkas Ma'rifah dan Nakiroh. Insya Allah akan kita lanjutkan lagi pada minggu ini atau minggu depan. Jika ada yang ingin dikomentari, ditanyakan, memberikan usulan, atau perbaikan, silahkan klik comments dibawah. Syukron katsiron.

Topik berikut Insya Allah: Bagaimana struktur kalimat yang sempurna dalam bahasa Arab.

Diposkan oleh Rafdian Rasyid di 3/26/2007

http://arabquran.blogspot.com/2007/03/belajar-bahasa-arab-dari-al-quran-topik_26.html

Topik 3: Membentuk Kalimat Sempurna

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada topik 2, kita telah menjelaskan apa bedanya kitaabun (buku) dengan al-kitaabu (buku), yaitu perbedaannya terletak pada telah jelas atau belum jelasnya benda yang dibicarakan oleh si pendengar. Kebetulan tidak ada respon yang ditulis di Comments, maka saya anggap, para pembaca telah mengerti. Tetapi ada yang bertemu dengan saya dan menyampaikan kesimpulan dia di topik ke 2:

"Berarti yang akhirannya tun tun itu pasti jenis perempuan ya...?", begitu kesimpulan teman saya tersebut. Saya belum jawab, karena saya ingin share jawabannya di blog ini.

Oke sebelum masuk ke topik inti yaitu membentuk kalimat sempurna, maka seperti biasa saya menjawab pertanyaan dulu. Oh ya, lain kali, tolooooongg bangeeet.... kalau ada pertanyaan tulisnya di Comments (iconnya di akhir tulisan ini). Tujuannya adalah selain memudahkan saya mencari jawabannya, pembaca lain juga jadi tahu apa yang dibahas.

Pertanyaan, atau lebih tepatnya pernyataan:

"Berarti yang akhirannya tun tun itu pasti jenis perempuan ya...?". Jawaban saya, iya kalau posisi dia sebagai mubtada' atau fa'il. Nah mengenai mubtada' atau fa'il ini akan kita bahas pada topik-topik berikutnya. Satu-satu ya teman... hehe... Belajar itu harus pelan-pelan, biar meresap... Gitu kata ahli hikmah...

Kemaren saya ambil contoh: شجرة syajaratun (pohon), ini kata berjenis perempuan. Lalu teman saya mengatakan kalau begitu asal belakangnya tun tun pasti berjenis perempuan. Seperti syajaratun, bintun (gadis perempuan) dsb.

Saya jawab iya. Tapi bagaimana kalau saya tulis begini شجرة syajaratin, atau saya tulis syajaratan. Saya memang tidak menuliskan harokat َ ً ِ ُ ٌ dan lain-lain, karena kalau saya tuliskan, maka tanda-tanda titik seperti titik pada "sya ش" akan tertimpa tanda harokat, sehingga tidak jelas lagi (apakah ini kerterbatasan Windows XP saya?) Tapi gak apa-apa, karena dalam bahasa Arab yang asli, tanda-tanda harokat juga tidak ada.

Kembali lagi, شجرة kalau pakai harokat bisa saya tulis, syajaratun, syajaratan, syajaratin, syajaratu, syajarata, dan syajarati, dan kalau dalam bahasa percakapan ta marbutoh nya saya matikan/saya waqofkan (menjadi bunyi h), sehingga diucapkan menjadi syajarah. Nah loh berarti ada 7 kemungkinan bacaan. Dimana yang berakhiran tun merupakan salah satunya.

Lalu yang mana yang berjenis perempuan? Jawabannya ke 7 jenis bacaan itu, tidak mempengaruhi status شجرة sebagai kata benda berjenis perempuan. Apakah dibaca syajaratun, syajaratu, syajaratan, syajarata, syajaratin, syajarati, mapun syajarah.

Lalu apa bedanya dong antara syajaratun dengan syajaratu. Hehe... ini pertanyaan yang sama di kepala saya beberapa bulan yang lalu waktu belajar bahasa Arab. Biar gak penasaran jawaban singkatnya, jika ada AL (الــ) misal الشجرة maka huruf n dibuang. Jadi الشجرة hanya boleh dibaca as-syajaratu, as-syajarata, as-syajarati, atau as-syajarah.

Kok begitu? Ya begitulah hukum atau aturan-aturan dalam bahasa Arab, yang hanya orang Arablah yang berhak membuat aturan-aturan itu.

Pertanyaan ke dua: kalau begitu, apa bedanya antara antara as-syajaratu dengan as-syajarata? Jawaban ringkasnya adalah melihat kepada posisi yang ditempati oleh kata tsb. Apakah dia sebagai subject atau sebagai objek. Jika dia sebagai subject, maka dia dibaca as-syajaratu, jika dia sebagai objek maka dibaca as-syajarata.

Auuu... bingung... bisa kasih contoh gak?

Gini gini... Contoh:

Pohon ini besar. هذه الشجرة كبيرة (hadzihi as-syajaratu kabiiratun)

Saya (telah) melihat (sebuah) pohon. رأيت الشجرة (ro-ai-tu as-syajarata)

Pohon dalam kalimat pertama berfungsi sebagai subject, maka dia dibaca as-syajaratu, sedangkan Pohon dalam kalimat dua berfungsi sebagai object maka dia dibaca as-syajarata.

Okeh... cukup dulu disitu jawab pertanyaannya ya... Sekarang ke topik utama, membuat kalimat sempurna... Tapi pembaca... aduh... udah kepanjangan... disambung nanti saja ya... Insya Allah... jangan lupa isi comments di bawah ini. Satu lagi... Jangan kapok ya belajar bahasa Arab... Insya Allah dapat pahala kok, karena semakin ngerti bahasa Arab semakin asyik kan... Dengerin imam yang suaranya tartil, merdu, merayu... bisa bisa nangis loh, karena tahu apa yang dibaca sang Imam... Syukron.

Diposkan oleh Rafdian Rasyid di 3/28/2007

http://arabquran.blogspot.com/2007/03/belajar-bahasa-arab-dari-al-quran-topik_28.html



Topik 4: Membentuk Kalimat Sempurna

Bismillahirrahmanirrahim

Pada topik kali ini akan dibahas bentuk kalimat sempurna. Layaknya dalam bahasa Indonesia satu ide kalimat disebut lengkap kalau memiliki Subject dan Prediket. Sebagai contoh: "Buku itu besar", adalah kalimat sempurna. Tapi kalau saya sebut: "Buku itu", nah ini kalimat yang belum lengkap, karena maknanya masih menggantung. Tapi kalau saya tulis "Itu sebuah buku", maka ini sudah menjadi kalimat sempurna, karena ide kalimatnya sudah lengkap.

Dalam struktur bahasa Arab, contoh diatas dapat ditulis sbb:

ذلك الكتاب

Prediket Subject

Khobar Mubtada'

Buku Itu


Jika dibaca dari kanan : Itu (sebuah) buku. Kalimat ini disebut kalimat sempurna. Jadi kalau sudah ada Subject (Mubtada') dan Prediket (Khobar), maka struktur kalimat menjadi lengkap.

Contoh lain: Pasar (itu) besar

سوق كبير suuqun kabiirun. Subjectnya "Pasar", Prediketnya "Besar".

Contoh lain: Itu (sebuah) pasar besar

ذلك سوق كبير dzalika suuqun kabiirun. Subjectnya "itu", Prediketnya "pasar besar".

Kembali ke surat Al-Baqaroh:

ذلك الكتاب لا ريب فه dzaalika al-kitabu laa raiba fiihi

Kitab itu tidak ada keraguan di dalamnya.

Dapat dipandang sbb:

1. (S) Itu -- (P) Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya

2. (S) Kitab -- (P) tidak ada keraguan di dalamnya

3. (S) tidak ada keraguan (P) di dalamnya

Kalimat diatas dapat dipandang sebagai (S) dan (P) [baris 1] dimana (P) nya terdiri dari (S) dan (P) [baris 2], dan (P) baris 2 sebenarnya terdiri dari satu kalimat sempurna juga yaitu (S) dan (P) baris 3.

Demikian dulu untuk sujebct ini. Sampai ketemu dalam topik berikutnya. Jangan lupa isi Comments. Syukron katsir.

Diposkan oleh Rafdian Rasyid di 3/30/2007

http://arabquran.blogspot.com/2007/03/belajar-bahasa-arab-dengan-al-quran_30.html

Topik 5: Huruf Jar

Bismillahirrahmanirrahim

Topik kali ini, kita akan membahas mengenai Huruf Jar. Binatang apakah ini? Dalam bahasa Indonesia kita biasa menyebut kata depan spt:

Saya di rumah

انا في البيت ana fii al-bayti

Kata: di (atau didalam) dalam bahasa Arab adalah في fii, inilah yang disebut huruf Jar.

Kembali ke surat Al-Baqaroh: 1-2

Kitab itu, tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang muttaqien. Ada 2 huruf jar kita temui yaitu:

لا ريب فيه (laa raiba fii hi) yaitu pada kata فيـ (fii) yang artinya di atau didalam

هدى للمتقين(hudan lil-muttaqien) yait pada kata ل (li) yang artinya bagi. Kata للمتقين ini jika kita pecah terdiri dari 2 kata yaitu ل (li) dan المتقين (al-muttaqien).

Apa saja huruf jar yang sering dijumpai?

Tadi sudah disebutkan dari, untuk. Yang cukup banyak dijumpai adalah:

من min = dari

إلى ila = ke

عن 'an = dari

على 'ala = diatas

تحت tahta = dibawah

في fii = didalam

ل li = untuk/bagi

Wah wah banyak yang mesti dihafal ya? Kalau gak mau repot, kalau menghafalkan surat Al-Baqaroh, ingat saja kata fii dan li.

Untuk latihan:

Saya didalam pasar

انا في السوق -- ana fi as-suuqi

Dia dari terminal

هو من المحطة huwa minal mahaththoti

Sebelum menutup topik ini, dulu waktu saya menghafal ayat Al-Quran, kadang suka salah.

Misalkan yang betul:

laa roiba fiihi hudal lil muttaqien. للمتقين

Nah saya suka lupa menyebutkan begini:

laa roiba fiihi hudal lil muttaquun. للمتقون

Walaupun secara arti, keduanya artinya sama, tetapi secara tata-bahasa yang betul adalah yang pertama (muttaqien).

Nah lalu, apa bedanya muslimiin, dengan muslimuun? Ini dibahas dalam topik berikut. Topik berikut insya Allah, mengenai hukum yang berkaitan dengan huruf jar.

Diposkan oleh Rafdian Rasyid di 4/02/2007

http://arabquran.blogspot.com/2007/04/belajar-bahasa-arab-dari-al-quran-topik.html

Topik 6: Rumah Pria Besar

Bismillahirrahmanirrahim

Kalau saya menyebut kalimat begini "Rumah pria besar". Atau "Rumah pria yang besar itu". Apa yang terbayang dalam pikiran Anda? Apakah yang besar itu? Apakah "Rumah" atau "Pria"nya?

Kalau saya tulis: Rumah pria yang besar, ada 2 kemungkinannya:

(Rumah pria) yang besar --> yang besar Rumahnya

Rumah (pria yang besar) --> yang besar Prianya.

Masalah-masalah spt ini sering muncul dalam ber-bahasa Indonesia. Tafsir kalimat jadi abu-abu, dan kabur.

Salah satu mu'jizat bahasa Arab (paling tidak menurut saya yang baru belajar ini) adalah, menjelaskan tafsir yang sebenarnya. Sehingga makna kalimat menjadi jelas, tidak abu-abu.

Ambil contoh yang tadi:

بيتُ الرجلِ العظيمِ

Baytur rajuli al-'adziimi --> Rumah (pria yang besar). Prianya yang besar, rumahnya bisa jadi kecil.

Tapi kalau saya tulis begini:

بيتُ الرجلِ العظيمُ

Baytur rajuli al-'adziimu --> (Rumah pria) yang besar. Yang besar adalah Rumahnya, prianya bisa jadi kecil.

Terlihat kan, bahwa dengan hanya merobah harokat ُ ِ maka kejelasan makna kalimat menjadi terang sekali. Berbeda dengan bahasa Indonesia kan?

Topik ini nanti dibahas pada bagian Mudhof. Insya Allah.

Diposkan oleh Rafdian Rasyid di 4/03/2007

http://arabquran.blogspot.com/2007/04/belajar-bahasa-arab-dari-al-quran-topik_03.html

Topik 7: Tinjau ulang topik 1 s/d 6

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada topik 1 kita telah menjelaskan jenis-jenis kata dalam bahasa Arab, yaitu: (1) isim--kata benda, (2) fi'il--kata kerja, dan (3) harf (atau huruf)--kata tugas. Topik 2 sampai 5 kita telah jelaskan jenis-jenis isim dan harf. Topik 6 agak melenceng sedikit, menjelaskan masalah mudhof (atau kata majemuk).

Sekarang kita review ulang surat Al-Baqaroh 1-2:

Kitab itu, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.

Karena tujuan akhir kita adalah bagaimana dengan cepat kita bisa menerjemahkan (ingat bukan menafsirkan loh... karena untuk menafsirkan perlu ilmu-ilmu lain), maka cara tercepat menurut saya adalah kemampuan memenggal-menggal kata dalam kalimat. Perhatikan ayat 2 diatas, menurut Anda terdiri dari berapa penggalan kata? Kalau jawaban Anda 7 maka jawabannya salah. Jawaban yang betul adalah 9 kata yaitu:

ذلك.....الكتاب..... لا..... ريب...... في....... ـه...... هدى...... ل..... المتقين

Teknik selanjutnya adalah (ini menurut pendapat saya pribadi loh...) setelah mengetahui 9 kata tersebut kita mengetahui apakah dia termasuk isim, fi'il, atau harf. Why? Karena kalau sudah punya "feeling" jenis-jenis kata tsb, kita minimal bisa "nebak-nebak" artinya.

Okeh... sekarang kita urai satu-satu. ذلك itu, الكتاب buku, لا tidak ada, ريب keraguan, في didalam, ـه nya, هدى petunjuk, ل bagi, المتقين orang-orang yang bertaqwa.

ذلك dzalika: itu --> isim isyaroh (kata benda tunjuk)

الكتاب al-kitaabu: buku --> isim alam ma'rifah (kata benda yang sudah spesifik)

لا laa: tidak ada --> harf (kata tugas), tugasnya adalah meniadakan secara makna kata setelahnya

ريب roiba: keraguan --> isim

في fii: didalam --> harf jar (kata tugas), tugasnya adalah menjadikan kata setelahnya tidak berakhiran un atau u, tetapi in atau i. Lihat topik 5.

ـه hi: nya --> isim dhomir (kata ganti orang)

هدى hudan: petunjuk --> isim

ل li: bagi --> harf jar (kata tugas). Lihat topik 5

المتقين al-muttaqien: orang-orang yang bertaqwa --> isim alam.

Setelah tahu pembagian tsb, lalu ngapain? Apa pentingnya tahu pembagian isim, fi'il, harf? Nah kembali lagi kita lihat ayat 2 diatas, terdiri dari 9 kata. Adakah kata kerja (fi'il) didalamnya? Tidak ada khan?

So??? Ya, kalau tidak ada berarti kalimat tsb kalimat yang tidak ada kata kerjanya. Ah bingung... Gini2x... Kalau saya sebutkan:

Rumah dipuncak bukit itu indah rupawan, diatasnya ada pemandangan gunung yang menghijau.

Nah, walau kalimat itu panjang, adakah bayangan "pekerjaan" dalam kalimat diatas? Bandingkan dengan ini.

Rumah dibawah lembah itu ditimpa longsor, dari batu yang menggelinding dengan cepat, menimpa lalu meremukkan rumah tersebut.

Nah dalam kalimat ini ada kata kerjanya yaitu: ditimpa, menggelinding dengan cepat, menimpa, meremukkan. Terbayang ada "Action" disini kan, ada sesuatu yang bergerak, bekerja. Itulah kata kerja (atau fi'il) dalam bahasa Arab.

Kembali lagi ke ayat 2 surat Al-Baqaroh diatas, kita tidak menemukan fi'il (atau kata kerja). Semuanya kata benda dan harf (kata tugas) saja.

Buku itu, tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang-orang bertakwa.

Kalimat ini semacam kalimat pemberitahuan, bahwa kitab itu (yaitu Al-quran) tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya, dan dia adalah petunjuk bagi orang-orang bertaqwa.

Perlu dilihat disini kata-kata لا yang diikuti kata benda yang berbentuk nakiroh (umum) ريب : keraguan. Tugas Laa itu adalah meniadakan apapun jenis kata benda setelahnya (yaitu keraguan). Yang bisa diterjemahkan, tidak ada setetespun (sedikitpun) terhadap segala jenis keraguan, didalamnya.

Demikian dulu topik ini kita tutup... Insya Allah akan kita lanjutkan lagi...

Diposkan oleh Rafdian Rasyid di 4/05/2007

http://arabquran.blogspot.com/2007/04/belajar-bahasa-arab-dari-al-quran-topik_05.html

Topik 8: Mengimani, Mendirikan, Rezkikan, Menginfakkan

Bismillahirrahmanirrahim

Topik kali ini insya Allah kita akan membahas mengenai fi’il (kata kerja). Dalam bahasa Arab kata kerja dibagi 2 jenis, yaitu kata kerja sempurna--perfect tense (atau telah lewat – Past Tense), dan kata kerja belum sempurnya--imperfect tense (atau sedang dilakukan, atau akan dilakukan – Present Tense/Future Tense). Bagi yang sudah biasa berhasa Ingris, kenyataan ini cukup mengherankan. Bahasa Arab ternyata lebih sederhana!!!

Kata kerja sempurna, dan belum sempurna... Nah loh, apa lagi tuh...?

Kalau dalam bahasa Indonesia kita bisa berkata begini:

”Muhammad membaca buku”.

Apa yang terbayang dalam pikiran Anda? Ya, anda akan tahu bahwa ada orang yang bernama Muhammad membaca buku? Kalau saya tanya, ”Kapan?”, ”Kapan dia membaca buku?”. "Apakah sekarang dia sudah selesai membaca buku?". Nah disini Anda mulai kerepotan. Yah itulah kelemahan bahasa Indonesia. Tidak ada indikasi kapan sesuatu perkejaan dilakukan. Bisa itu dikerjakan kemaren, saat ini, atau besok.

Bagaimana dalam bahasa Arab? Dalam bahasa Arab maka suatu perkerjaan dibedakan dalam 2 domain waktu saja, yaitu telah dilakukan (telah selesai dilakukan, atau telah lewat), atau belum selesai dilakukan (sedang dilakukan, atau akan dilakukan). Misalkan spt ini:



Yüklə 1 Mb.

Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   13




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə