Buku pedoman kuliah



Yüklə 0,68 Mb.
səhifə1/11
tarix03.01.2019
ölçüsü0,68 Mb.
#89055
  1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11

Bab I. MANUSIA DAN ALAM SEMESTA (Tatap Muka I - IV)


  1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)




  1. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

    • Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian khaliq dan makhluk.

    • Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian konsep manusia menurut filsafat, ilmu dan agama Islam.

    • Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian konsep alam semesta.

    • Mahasiswa dapat menjelaskan asal-usul manusia menurut ilmu dan Agama Islam.

    • Mahasiswa menjelaskan proses reproduksi manusia berdasarkan kajian ilmu dan Agama Islam.

    • Mahasiswa dapat menjelaskan hubungan, kedudukan dan tujuan manusia hidup di alam semesta.



  1. MANUSIA DAN ALAM SEMESTA (TM I - IV)



A. Manusia dari Beberapa Sudut Pandang

1. Manusia dalam Pandangan Filsafat

Siapakah manusia? Dari mana asalnya? Di mana kedudukan dan fungsi manusia? Lalu apa tujuan manusia? Beberapa pertanyaan itu tidak akan usang dipertanyakan sepanjang jaman apabila membahas topik manusia.

Dalam ilmu mantiq (logika) manusia disebut sebagai Al-Insanu hayawanun nathiq (manusia adalah binatang yang berfikir). Nathiq sama dengan berkata-kata dan mengeluarkan pendapatnya berdasarkan pikirannya. Sebagai binatang yang berpikir manusia berbeda dengan hewan. Walau pada dasarnya fungsi tubuh dan fisiologis manusia tidak berbeda dengan Hewan, namun hewan lebih mengandalkan fungsi-fungsi kebinatangannya, yaitu naluri, pola-pola tingkah laku yang khas, yang pada gilirannya fungsi kebinatangan juga ditentukan oleh struktur susunan syaraf bawaan. Semakin tinggi tingkat perkembangan binatang, semakin fleksibel pola-pola tindakannya dan semakin kurang lengkap penyesuaian struktural yang harus dilakukan pada saat lahirnya.

Pada primata yang lebih tinggi (bangsa monyet) bahkan dapat ditemukan intelegensi yaitu penggunaan pikiran guna mencapai tujuan yang diinginkan sehingga memungkinkan binatang untuk melampaui pola-pola kelakuan yang telah digariskan secara naluri. Namun setinggi-tingginya perkembangan binatang, elemen-elemen dasar eksistensinya yang tertentu masih tetap sama.

Manusia menyadari bahwa dirinya sangat berbeda dari binatang apa pun. Tetapi memahami siapa sebenarnya manusia itu bukan persoalan yang mudah. Ini terbukti dari pembahasan manusia tentang dirinya sendiri yang telah berlangsung demikian lama. Barangkali sejak manusia diberi kemampuan berpikir secara sistematik, pertanyaan tentang siapakah dirinya itu mulai timbul. Namun informasi secara tertulis tentang hal ini baru terlacak pada masa Para pemikir kuno Romawi yang konon dimulai dari Thales (abad 6 SM).

Beberapa ahli filsafat berbeda pemikiran dalam mendefinisikan manusia. Manusia adalah makhluk yang concerned (menaruh minat yang besar) terhadap hal-hal yang berhubungan dengannya, sehingga tidak ada henti-hentinya selalu bertanya dan berpikir. Sehingga oleh Beerling (Guru Besar Filsafat) menyebutkannya sebagai "tukang bertanya" atau Sartre (filosof eksistensi Perancis) menyebutkan bahwa manusia adalah sifatnya bertanya. Demikian juga Sokrates (470-399 SM) mengajak manusia untuk memperhatikan diri sendiri agar sadar akan dirinya dengan kata hikmahnya yang terkenal "Gnothi Seantho" yang artinya kenalilah dirimu.

Rene Descartes (1596-1650) mengatakan "Cogito Ergo Sum" (saya berfikir sebab itu saya ada). Di samping itu Aristoteles (384-322 SM), seorang filosof besar Yunani mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal-pikirannya. Juga manusia adalah hewan yang berpolitik (zoonpoliticon, political animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokkan yang impersonal dari pada kampung dan negara. Manusia berpolitik karena ia mempunyai bahasa yang memungkinkan ia berkomunikasi dengan yang lain. Dan didalam masyarakat manusia mengenal adanya keadilan dan tata tertib yang harus dipatuhi. Ini berbeda dengan binatang yang tidak pernah berusaha memikirkan suatu cita keadilan.

Filosof terkenal dan termasyhur Islam Ibnu Sina atau Avvicena --begitu orang barat mengenalnya-- (980–1037), menyebutkan adanya tujuh kesanggupan manusia, yaitu: (l) makan, (2) tumbuh, (3) berkembang biak, (4) pengamatan hal-hal yang istimewa, (5) pergerakan dibawah kekuasaan, (6) ketahuan dari hal-hal yang urnum dan (7) kehendak memilih yang bebas. Tumbuh-tumbuhan memiliki kesanggupan 1, 2, dan 3. Hewan mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, dan 5. Sedangkan manusia mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Yang dimaksud dengan ketahuan pada angka 6 ialah segala yang kita ketahui, berbeda dengan pengetahuan.

Sedangkan As-Syaikh Musthafa al-Maraghi ketika menafsirkan makna hidayah dalam surat al-Fatihah menerangkan bahwa ada lima macam dan tingkatan hidayah yang dianugerahkan Allah s.w.t. kepada manusia, yaitu: 1. Hidayahal-Ilham gharizahatau (insting). 2. Hidayah al-Hawasy, (indra). 3. Hidayah al- 'Aql, (akal budi). 4. Hidayah al-Adyan, (agama). 5. Hidayah at-Taufik. Hidayah al- 'Aql (ke 3) lebih tinggi tingkatannya dari hidayah terdahulu (insting dan indra yang dianugerahkan Tuhan kepada hewan). Dan pada hidayah aql pula yang membedakan antara manusia dan binatang. Di samping itu, di atas akal budi terdapat hidayah agama dan hidayah at-taufiq.

Sehubungan dengan tingkat-tingkat eksistensi atau tingkat-tingkat keberadaan makhluk di alam semesta, E.P. Schumacher seorang ekonom dan filosof membagi menjadi beberapa tingkatan: a) Tingkat eksistensi (keberadaan) benda mati yang tersusun dari pelikan (mineral), seperti batu, tanah dan lain-lain. b) Tingkat eksistensi tumbuh-tumbuhan yang tersusun dari unsure pelikan dan unsur hidup. Unsur pelikan adalah bagian yang kelihatan dan unsur hidup adalah ghaib. c) Tingkat eksistensi hewan yang tersusun dari unsur pelikan, unsur hidup dan unsur kesadaran. Unsur kesadaran ini yang hewan beraksi kapan dia mau makan, minum, berteduh, tidur, mengelak dari bahaya, membela diri atau menyerang bila perlu. d) Tingkat eksistensi tertinggi di dalam alam semesta fisika adalah manusia yang tersusun dari unsur pelikan, unsur hidup, kesadaran dan sadar diri. Unsur sadar diri inilah yang menjadikan manusia mempunyai rasa malu; punya konsep aku, engkau dan dia; punya konsep dimensi waktu: kemaren, kini dan esok; punya konsep harga diri, adab dan sopan santun. Jadi unsur sadar dirilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, menurut E.F. Schumacher.

Dari uraian singkat di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:


  1. Manusia adalah jenis hewan juga.

  2. Manusia mempunyai perbedaan tertentu dibanding dengan hewan lainnya.

  3. Ditinjau dari segi jasmaniah, perbedaan antara manusia dengan hewan adalah gradual, tidak fundamental.

  4. Ditinjau dari segi rohaniyah, perbedaan antara manusia dengan hewan adalah prinsipil, asasi.

  5. Keistimewaan ruhaniyah manusia dibandingkan dengan hewan terlihat dalam kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir, berpolitik, mempunyai kebebasan/kemerdekaan, memiliki sadar diri, mempunyai norma, tukang bertanya atau tegasnya manusia adalah makhluk berbudaya.

2. Manusia dalam Pandangan Ilmu Pengetahuan

Para ahli pikir berbeda pendapat dalam mendefinisikan manusia. Perbedaan tersebut sebenarnya disebabkan oleh kenyataan kekuatan dan peran multidimensional yang dimainkan manusia. Sedangkan kecenderungan para ahli pikir hanya meninjau dari sisi yang menjadi titik pusat perhatiannya dan mengabaikan sisi yang lainnya. Perkembangan ilmu pengetahuan yang bergerak dari zaman ke zaman juga senantiasa memperkaya wawasan mereka tentang manusia. Pada zaman modern pendefinisian manusia banyak dilakukan oleh mereka yang menekuni bidang psikologi.

Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan). Menurut aliran ini manusia adalah makhluk yang memiliki perilaku hasil interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego) dan sosial (superego), Di dalam diri manusia terdapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).

Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mechanicus (manusia mesin). Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (aliran yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subyektif) dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis perilaku yang tampak saja, yang diukur, dilukiskan dan diramalkan. Menurut aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek rasional dan emosionalnya.

Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai home sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berpikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir, memutuskan, menyatakan, memahami dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.

Para penganut teori humanisme menyebut manusia sebagai homo ludens (manusia bermain). Aliran ini mengecam teori psikoanalisis dan behaviorisme karena keduanya dianggap tidak menghormati manusia sebagai manusia. Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan menentukan seperti cinta, kreatifitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Menurut humanisme manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.

Dari beberapa teori tersebut yang paling popular dan kontroversial adalah teori descendensi (keturunan) atau teori evolusi. Teori evolusi berpangkal dari teori Lamarck, seorang ahli biologi termashur dari Perancis. Pada Lamarck (1774-1829) teori ini baru bersifat spekulatif atau pemikiran. Charles Darwinlah (1809-1882), seorang ahli biologi Inggris, yang menyempurnakan dan menjadikannya ilmiah dengan memberikan dasar data-data. Teori ini beranggap bahwa tiap jenis tumbuhan dan hewan berasal dari jenis yang paling rendah, yakni yang awal sekali adalah amuba atau makhluk bersel satu. Jenis yang paling tinggi atau akhir sekali adalah manusia.

Jadi kalau manusia terjadi dari hasil evolusi hayat, tentu ia berasal dari jenis yang lebih rendah, yaitu binatang. Demikianlah manusia menurut teori evolusi merupakan hasil dari evolusi hewan sederhana sampai kepada hewan tingkat tinggi (bangsa antropoide) dan akhirnya manusia.

Memang, asal usul manusia dan keberadaannya di alam semesta menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Kapankah manusia pertama kali hadir di muka bumi ini? Makhluk apakah yang menjadi nenek moyang manusia dan bagaimana proses penurunan dan perubahan-perubahannya? Berlandaskan adanya persamaaan bentuk morfologis dan fisiologis (dan alasan yang bersifat ideologis) pada abad ke-19 tumbuh suatu pemahaman tentang asal usul manusia yang dikaitkan dengan primata. Primata (bangsa kera) adalah model puncak perkembangan evolusi hewan.

Berdasarkan kecenderungan mempertahankan pendapat memang ada semacam upaya terselubung untuk "mempertua" usia kehadiran manusia oleh kelompok "Darwinisme". Hal ini menyebabkan pengambilan kesimpulan yang serampangan dan mengaburkan fakta. Ramapithecus yang berusia 15 juta tahun dan Oreopithecus yang berusia 12 juta tahun dianggap, sebagai manusia tertua. Pengamatan yang teliti menunjukkan bahwa kedua spesies tersebut lebih layak disebut kera daripada manusia.

Upaya menghubungkan Ramapithecus dan Oreopithecus dengan mata rantai kehadiran manusia banyak ditentang para ahli. Bangsa kera (primata) dianggap memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan manusia meskipun Australopithecus memiliki volume tengkoraknya yang hampir sama dengan simpanse dan gorila. Kedua jenis kera terakhir yang hidup hingga zaman kini tidak memiliki kecerdasan yang mencerminkan kebudayaan manusiawi sebagaimana Australopithecus.

Memang teori evolusi pada hewan dianggap cukup kuat. Bentuk-bentuk kehidupan bersel banyak hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan dari bentuk-bentuk sel tunggal. Cenophores yang memiliki dasar-dasar bagi organ-organ dan sel-sel yang telah mendapatkan fungsi- fungsi urat syaraf telah terbentuk kira-kira kurang dari satu milyar tahun yang lalu. Hewan-hewan tak bertulang belakang mungkin telah muncul 500 atau 600 juta tahun yang lalu bersama dengan bangsa kerang-kerangan, cacing gelang dan serangga pertama. Hewan-hewan bertulang belakang datang sesudahnya sekitar 450 juta tahun yang lalu dan begitu pula ikan-ikan tertentu yang terus berkembang setelah itu.

Hewan-hewan bumi bertulang belakang (amfibi dan reptil muncul sekitar 350 juta tahun yang lalu. Setelah mereka muncul pula hewan menyusui (180 juta tahun yang lalu) dan burung (13-1 juta tahun yang lalu). Tetapi bentuk-bentuk kehidupan itu tidak hanya muncul, tetapi juga menghilang, kadang-kadang dalam jumlah yang sangat besar. Bangsa reptil memberikan suatu contoh bagus menyangkut fenomena ini. Setelah berkuasa selama 200 juta tahun, mereka mengalami kejatuhan, sehingga sekarang kita hanya memiliki sedikit sisa untuk menjelaskan kehidupan reptil lebih dari 60 atau 70 juta tahun yang lalu. Tempat mereka telah diambil alih oleh hewan menyusui. Dan bangsa primata dianggap menjadi puncak bagi evolusi di dunia hewan.

Kesenjangan bukti-bukti ilmiah telah melemahkan hipotesis bahwa manusia adalah perkembangan lebih lanjut dari keluarga primata. Jika pun pada suatu hari mungkin ditemukan bukti formal yang menghubungkan manusia dengan nenek moyang hewan maka hal itu adalah sebuah lompatan luar biasa pada pertambahan informasi genetik. Hanya dengan lompatan tersebut terbentuk suatu keturunan dengan ciri-ciri manusiawi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan evolusi menuju bentuk homo sapiens.

Tetapi sesungguhnya sebuah argumen ke arah yang berlawanan dapat diajukan tanpa ada sangkalan sekecil apa pun dari bukti-bukti i1miah yang telah diperoleh. Argumen tersebut menyatakan bahwa penciptaan spesies manusia terjadi secara terpisah dari keturunan yang telah ada sebelumnya. Selanjutnya spesies tersebut menjalani transformasi-transformasi seperti yang tergambar dari model Manusia purba Australopithecus sampai dengan homo sapiens seperti berikut:


  1. Makhluk yang paling tua yang bentuknya mirip atau hampir menyamai manusia, disebut Australopithecus. Fosilnya diperkirakan berumur 500 - 600 ribu tahun.

  2. Pithecanthropus Erectus, manusia kera berdiri tegak, yang fosilnya berumur sekitar 400 ribu tahun.

  3. Homo Neonderthalensis, manusia Neanderthal yang fosilnya berumur kira-kira 100 ribu tahun.

  4. Homo Sapiens atau manusia budiwan, fosilnya ditemukan kira-kira 35.000 tahun yang lalu. Manusia yang sekarang ini diperkirakan masuk dalam golongan ini.

Melihat teori evolusi yang demikian, tentu muncul dugaan bahwa di masa yang akan datang akan lahir jenis baru yang berbeda sama sekali dengan jenis manusia sekarang. Tetapi dugaan ini dinafikan oleh kelompok finalisma dari kalangan evolusionis juga yang beranggapan bahwa jenis manusia sekarang telah terhenti dengan alasan pada fase ini telah berhenti pertumbuhan volume otak pada manusia sekarang. Menurut mereka penambahan volume dan penyempurnaan otak ada hubungannya dengan perkembangan kecerdasan. Misalnya Australopithecus memiliki volume otak 450 cm . Dalam evolusi 400 - 500 ribu tahun terjadi pertambahan 1.000 cm dan pada Homo Neanderthaledsis mencapai volume otak 1.450 cm3. Dan sampai di sini volume otak bertahan tetap, tidak bertambah lagi sampai dengan manusia modern kini. Dengan terhentinya evolusi organ yang amat penting (otak) dalam diri manusia, maka terhenti pula evolusi pada jenis manusia.

Tujuan evolusi—menurut kaum finalisma—adalah untuk mewujudkan manusia atau pada manusialah akhir proses evolusi. Namun demikian teori evolusi—sebagai teori ilmu— seperti teori-teori lainnya tidaklah mengandung kebenaran yang mutlak. Kebenaran teori ilmu tergantung pada data-data tempat ia berpijak. Jika ditemukari data baru atau diperbaikinya data lama, suatu teori dapat jatuh dan digantikan oleh teori baru.

Demikian pula yang terjadi pada teori evolusi ini. Walaupun telah dibela oleh kaum finalisma, namun tidak lepas pula dari kelemahan-kelemahan, diantaranya adalah justru teori terhentinya evolusi otak semenjak Homo Neanderthalensis sampai dengan Homo Sapiens. Terhentinya evolusi ini berlawanan dengan teori evolusi itu sendiri. Kelemahan yang lebih nampak dan banyak diperdebatkan adalah tentang "mising link", yaitu putusnya hubungan atau tidak ditemukannya jenis antara dari bangsa hewan (hewan terpuncak dari jenis primata [bangsa kera] yaitu, Ramapithecus yang berusia 15 juta tahun dan Oreopithecus berusia 12 juta tahun) kepada jenis manusia (dari Australipithecus 4 juta – 600.000 tahun hingga Homo sapiens 35.000 – 40.000 tahun).

Di sisi lain, perkembangan mutakhir dari hasil ilmu pengetahuan dalam membahas topik tentang manusia di abad 19 ini adalah dapat dipastikannya asal-usul terjadinya proses kejadian manusia (reproduksi) secara biologis oleh ilmu embriologi dan kedokteran modern.

Proses reproduksi manusia dapat kita temui dalam cabang ilmu Biologi yaitu ilmu embriologi dan kedokteran. Ilmu embriologi adalah ilmu yang masih sangat muda, perkembangannya yang amat menyolok terutama setelah diketemukannya miskroskop sekitar tahun 1677. Namun minat terhadap kejadian-kejadian dan perkembangan-perkembangan yang berhubungan dengan embrio sudah lama ada, lebih dari dua ribu tahun yang lalu, lewat Aristoteles. la mengamati perkembangan sebuah embrio ayam; akan tetapi tanpa miskroskop ia hanya dapat mengambil kesimpulan yang amat dangkal ditinjau pada masa sekarang. la mengatakan bahwa embrio manusia terbentuk bila cairan sel mani dicampur dengan darah menstruasi. Pada hakekatnya pertimbangannya itu tepat, tetapi ia keliru dalam satu hal; ia mengira bahwa hanya pihak wanita yang menentukan zat embrio sedang pihak pria hanya merangsang pertumbuhannya.

Lima ratus tahun kemudian, dalam abad kedua sesudah masehi, seorang dokter Yunani bernama Galen memberi interpretasi lain—yang pada hakekatnya tidak betul— , tetapi toh dipertahankan lebih dari 15 abad. Galen mengembangkan teori yang terkenal dengan nama; "emboitement" yang kurang lebih berarti "dibangun di dalam" atau "pengotakan". Gambaran teori pengotakan ini adalah demikian; dalam kotak cairan sel kelamin ibu yaitu sel telur, terdapat embrio utuh (sudah berbentuk manusia) tetapi amat kecil sekali; dan kotak cairan sel kelamin ayah mengakibatkan kotak itu membuka diri dan pertumbuhannya dimungkinkan. Menurut teori ini, setiap bayi seharusnya sudah mengandung seorang bayi lagi yang sudah di bentuk sebelumnya, sebagaimana kotak-kotak Tionghoa disusun, yang satu termasuk ke dalam yang lain.

Pada tahun 1677, setelah diketemukannya miskroskop, Anton Van Leeuwenhoek, seorang sarjana ilmu alam berkebangsaan Belanda, untuk pertama kalinya dapat melihat sebuah sperma atau sel kelamin pria yang hidup, yaitu setetes cairan mani. Dan seorang dokter muda Regnier de Graafjuga orang Belanda, telah mengamat-amati dan melukiskan "sesuatu yang meletus sebagai gelembung air", waktu ia membuka alat kelamin kelinci betina. Sesuatu itu adalah gugus-gugus sel, tempat terjadinya embrio. Akan tetapi baik de Graaf maupun van Leeuwenhoek tidak dapat memahami apa yang mereka lihat, mereka belum dapat membayangkan bahwa suatu ciptaan berbentuk dapat berkembang dari suatu yang tak berbentuk. Temuan mereka itu untuk sementara belum terpecahkan, sebab pada waktu itu kebanyakan sarjana biologi masih menganut teori emboitement atau teori pengotakan.

Penemuan-penemuan tersebut di atas mengakibatkan sarjana biologi terpecah menjadi dua golongan,yaitu "kaum ovulis" dan "kaum homunkulis". Hal itu terjadi hampir selama dua abad, dari abad 17 hingga abad 18. Padahal keduanya masih menganut teori pengotakan. Kaum ovulis masih tetap memegang pandangan teori pengotakannya Galen. Kaum homunkulis mengatakan lain: "Manusia dibentuk lebih dulu dalam kepala sperma tidak dalam sel telur". Untuk mengilustrasikan pendapat itu, mereka membuat gambar yang memperlihatkan sebuah homunkulus, yaitu manusia sangat kecil yang dengan kepala tertunduk dan kaki bersila persis cocok untuk dimasukkan dalam kepala sperma itu. Mereka mengira homunkulus ini dibesarkan di dalam rahim, dan tumbuh di sana seperti dalam peti pengeraman. Baru pada tahun 1759 lewat Kaspar Friedrich Wolf seorang sarjana anatomi, dengan memakai miskroskopnya ia menyelidiki embrio ayam. la menyimpulkan penyelidikannya itu dalam desertasinya yang berjudul "Teori Generationis" (teori tentang mengadakan keturunan). Ia berhasil secara serentak menghapus teori emboitement maupun teori kaum ovulis/ovist dan homunkulis. Teori tadi digantinya dengan dua konsep baru yang tepat, pertama, sebuah tubuh dibangun dan butir-butir sel, dan yang kedua, kedua pihak orangtua menyumbangkan bagian yang sama banyak bagi anak keturunannya. la menduga hal ini, walaupun waktu itu sel telur binatang menyusui belum ditemukan.

Lebih dari lima puluh tahun kemudian van Boer dapat melihatnya diujung pisau laboratoriumnya. la melihat sel telur yang belum matang dari indung telur seekor anjing. Oleh karena itu pada abad ke 19 minat terhadap embriologi diperbaharui dan diperkuat lagi.

Pada abad inilah baru dapat disadari perkembangan embrio secara jelas. Kita adalah generasi yang mengetahui dengan jelas bagaimana kelangsungan perkembangan manusia dari satu sel menjadi seorang individu, yang sebelumnya sudah hidup dan bereaksi terhadap alam sekitarnya. Kita pulalah generasi yang mengenal kejadian-kejadian mulai dari jam-jam dan hari-hari pertama. Sel telur yang matang pada manusia sedang meninggalkan indung telur dilihat untuk pertama kali pada tahun 1930, Mengenai sel-sel orangtua, yaitu terjadinya persenyawaan sperma dan sel telur baru dapat diamati tahun 1944, yaitu empat belas tahun kemudian. Kejadian-kejadian dalam enam hari pertama dalam kandungan diketahui pada tahun 1950-an. Akhirnya dalam tahun 1960-an kita mulai membongkar rahasia susunan dalam sel yang begitu komplek dan yang menurunkan sifat-sifat turun-temurun kita.

Akhirnya konsep reproduksi pada hari ini telah dapat kita ketahui secara jelas sebagai berikut:

Reproduksi manusia terjadi melalui proses-proses yang umum bagi binatang menyusui. Pada permulaannya terjadi pembuahan (fecondantion) dalam saluran telur (tuba fallopii). Yang menyebabkan pembuahan adalah sperma laki-laki (mani). Dari air mani atau sperma yang mengandung berjuta-juta spermatozoa, satu sel benih sudah cukup untuk terjadinya pembuahan dengan sel telur (ovum) dari pihak wanita. Telur yang telah dibuahi akan menetap pada suatu titik tertentu dalam rahim wanita. Telur ini turun sampai ke rahim dan menetap di sana berpegangan dengan selaput lendir dan lengan otot sesudah tersusunnya plasenta. Telur itu akan berkembang dalam rahim menjadi embrio.

Pertama-tama akan terlihat oleh mata biasa, embrio itu terlihat sebagai sepotong daging, lalu akan timbul tulang-tulang sehingga berbentuk manusia. Dan akan dilengkapi dengan perlengkapan lainnya, seperti otot, sistem syaraf, sistem sirkulasi, pembuluh-pembuluh dan lain sebagainya sampai lahir sosok jabang bayi yang sempurna selama kurang lebih 9 bulan. Itulah reproduksi manusia yang telah diperoleh oleh akal fikiran manusia dengan ilmu embriologinya serta dilengkapi dengan peralatan yang serba canggih di abad mutakhir saat ini.

Telah diketahui bersama bahwa manusia terdiri dari badan (jasmani) dan Ruh (ruhani). Dipandang dari segi jasmaniah, pada dasarnya tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang. Tetapi jika diperhatikan secara seksama akan ditemukan perbedaan-perbedaan yang mendasar antara keduanya. Di antara perbedaan-perbedaannya adalah, pada manusia untuk melaksanakan tindakan dan perbuatan memerlukan pendidikan atau latihan terlebih dahulu, sedangkan pada binalang semua dilakukan atas dasar naluri. Manusia juga memiliki perasaan rohaniah, seperti suka, duka, dan sebagainya dan juga memiliki kehidupan batin yang nampak pada kesadaran akan diri dan lingkungannya. Dan yang paling penting adalah tumbuh kemampuan berpikir sehingga manusia dapat mempelajari bahasa yang dengannya dapat menyalurkan apa yang ada dalam dirinya (pikiran, perasaan, pengalaman, keinginan) untuk menjalin hubungan di antara anggota masyarakat. Kesemuanya ini tidak dimiliki oleh binatang.

Ilmu pengetahuan juga mengakui bahwa dalam diri manusia ada jiwa. Yang menjadi masalah adalah apakah jiwa itu substansi yang berdiri sendiri ataukah ia hanya merupakan fungsi atau aktifitas jasad dengan organ-organnya. Masalah ini tentu tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan, tetapi dibahas oleh filsafat. Terdapat perbedaan pendapat mengenai jiwa dalam dua cabang filsafat metafisika, yaitu materialisme (serba zat) dan spiritualisme (serba roh). Materialisme beranggapan bahwa hakekat kenyataan yang serba ragam dan serba rupa adalah zat atau materi. Sedangkan spiritualisme beranggapan bahwa hakekat kenyataan adalah roh atau jiwa; Materi bersifat nyata, bentuknya tidak dapat disentuh oleh panca indra.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa menurut ilmu pengetahuan manusia terdiri dari jasad material yang tidak banyak bedanya dengan jasad binatang. Perbedaan yang menonjol hanya nampak pada besar kecilnya volume otak. Tetapi dari segi batiniah terdapat perbedaan yang besar sekali. Manusia memiliki jiwa yang memungkinkan otak berfikir. Memiliki qalbu yang menjadi sumber penghayatan rohaniyah yang dengannya manusia dapat membentuk tata kehidupan sosial yang penuh dengan norma dan aturan.





Yüklə 0,68 Mb.

Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə